News

3 Kontroversi Immanuel Ebenezer, dari ‘Kabur Aja Dulu’ hingga Arogansi Sidak

×

3 Kontroversi Immanuel Ebenezer, dari ‘Kabur Aja Dulu’ hingga Arogansi Sidak

Sebarkan artikel ini
noel
Eks Wamenaker Noel.

KITAINDONESIASATU.COM – Penangkapan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer alias Noel oleh KPK bukanlah peristiwa yang mengejutkan bagi sebagian publik. Jejak digitalnya sudah lebih dulu menunjukkan gaya komunikasi yang impulsif, arogan, dan kerap dinilai tidak sensitif.

Sebelum mengenakan rompi oranye KPK, Noel sudah menciptakan citra kontroversial melalui sejumlah pernyataannya. Mulai dari tanggapannya terhadap isu pekerja migran, komentarnya soal CPNS yang mengundurkan diri, hingga arogansi saat melakukan inspeksi mendadak (sidak). Ketiga momen itu kini kembali disorot sebagai potret sikap seorang pejabat yang dinilai kerap menyalahgunakan kuasa.

1. Polemik #KaburAjaDulu: Saat Wamenaker ‘Usir’ WNI

Pada Februari 2025, ketika tagar #KaburAjaDulu ramai di media sosial, Noel justru memberikan respons yang menimbulkan kemarahan publik. Alih-alih menawarkan solusi atau empati, ia berkata: “Hashtag-hashtag, enggak apa-apa lah, masa hashtag kami peduliin. Mau kabur, kabur aja lah. Kalau perlu jangan balik lagi.”

Ucapan ini dianggap publik sebagai bentuk arogansi sekaligus “pengusiran” warga negara oleh pejabatnya sendiri.

2. Sidak di Pekanbaru: “Mas, Saya Wakil Menteri!”

Pada April 2025, Noel kembali menjadi sorotan saat melakukan sidak ke sebuah perusahaan di Pekanbaru. Dalam interaksi yang terekam, ia terdengar membentak seorang petugas dengan kalimat: “Mas, saya Wakil Menteri!”

Baca Juga  Grasi di AS dan Indonesia, Perbedaan Kewenangan dan Kontroversi

Pernyataan itu dipandang publik sebagai upaya mengintimidasi dengan jabatan, bukannya menjalankan fungsi sebagai pelayan masyarakat.

3. Soal 1.967 CPNS Mundur: Gagal Pahami Generasi Muda

Saat muncul data bahwa 1.967 CPNS yang lulus seleksi memilih mundur, Noel menilai keputusan tersebut sebagai bentuk ketidaksiapan dan sikap seenaknya. “Menurutnya, pelamar yang sudah diterima seharusnya siap ditempatkan di mana saja. Bukannya malah mundur seenaknya.”

Pernyataan ini dinilai publik sebagai bentuk kegagalan memahami kondisi generasi muda, terutama terkait tantangan pekerjaan dan harapan akan sistem birokrasi yang lebih fleksibel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *