Ia menekankan bahwa CKG Sekolah adalah bentuk layanan kesehatan jemput bola, berbeda dengan program CKG umum yang hanya dilaksanakan di fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas atau posyandu.
Sebelumnya, lanjutnya, CKG untuk masyarakat umum juga sudah menerapkan pola jemput bola melalui posyandu, namun belum maksimal karena berbagai kendala.
“Jumlah tenaga medis terbatas, peralatan tidak selengkap di puskesmas, dan tantangan geografis warga yang tinggal di daerah sulit dijangkau menjadi kendala utama,” ungkapnya.
Saat ini, pihak Dinkes masih menunggu laporan lengkap dari masing-masing puskesmas, termasuk informasi mengenai jenjang sekolah yang lebih dahulu dijangkau, apakah dimulai dari tingkat SD, SMP, atau SMA.
“Kita belum tahu pasti sekolah mana yang sudah dilayani. Kami masih menunggu laporan rinci dari lapangan,” tutup Syarkiah. (Anang Fadhilah)

