KITAINDONESIASATU.COM- Di balik aroma sedap masakan rumahan, tersimpan ancaman tak kasatmata dari alat dapur yang paling sering digunakan: sodet atau spatula. Pemilihan bahan sodet yang keliru bukan sekadar soal kenyamanan memasak, melainkan bisa menjadi sumber paparan zat kimia berbahaya yang mengancam kesehatan keluarga.
Ahli Biomedik IPB University, Benedikta Diah Saraswati, SSi, MBiomed, mengingatkan bahwa penggunaan sodet berbahan tertentu, terutama plastik, berisiko tinggi melepaskan senyawa beracun saat terkena panas.
“Bahan sodet yang salah justru bisa membahayakan kesehatan, terutama ketika terkena suhu tinggi,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Selasa, 4 November 2025.
– Bahan Plastik Paling Berisiko
Diah, begitu ia disapa, menjelaskan bahwa sodet berbahan plastik berpotensi mengalami degradasi termal ketika terkena panas. “Ikatan kimia di dalam polimer bisa terurai dan melepaskan senyawa berbahaya ke makanan,” jelasnya.
Senyawa berbahaya yang mungkin muncul antara lain Bisphenol A (BPA), ftalat, formaldehida, atau amina aromatik. Menurutnya, BPA dan ftalat termasuk endocrine disruptor, yaitu zat yang dapat mengganggu kerja hormon tubuh, terutama hormon estrogen.
“Paparan jangka panjang dapat memicu gangguan kesuburan, resistensi insulin, masalah perkembangan janin, hingga risiko kanker,” tegasnya.
Lebih jauh, Diah juga memperingatkan bahaya penggunaan sodet plastik yang mulai meleleh. “Saat plastik meleleh, ikatan polimernya terurai dan melepaskan monomer sisa seperti styrene, ethylene, dan propylene. Senyawa ini bersifat neurotoksik dan hepatotoksik, bahkan berpotensi karsinogenik,” ujarnya.
Selain itu, gesekan dan panas dari sodet berbahan plastik dapat melepaskan partikel mikroplastik yang kemudian tertelan bersama makanan. “Partikel ini bisa menembus dinding usus, masuk ke aliran darah, dan mengendap di jaringan tubuh,” terangnya.
Hal tersebut, lanjut Diah, dapat menimbulkan stres oksidatif dan peradangan kronik, yang berpotensi menyebabkan kerusakan sel, gangguan imun, hingga penyakit metabolik.
– Silikon Lebih Stabil dan Aman
Untuk penggunaan sehari-hari, Diah menyarankan agar masyarakat beralih ke bahan yang lebih aman. Menurutnya, silikon food-grade jauh lebih baik dibanding plastik biasa.
“Silikon tersusun dari rantai silika yang stabil secara kimia, tahan panas hingga sekitar 250°C, dan tidak mengandung BPA, ftalat, maupun PVC. Karena sifatnya inert, silikon tidak mudah bereaksi dengan minyak atau asam makanan,” paparnya.
Jenis yang paling direkomendasikan adalah platinum-cured silicone, yakni silikon yang diproses menggunakan katalis platinum sehingga hasilnya lebih murni dan tahan panas.
“Silikon yang murni tidak memicu stres oksidatif atau gangguan hormonal, sehingga aman digunakan dalam jangka panjang,” tegasnya.


