Lifestyle

Warisan Batavia: Koleksi Prasasti dan Nisan di Museum Kota

×

Warisan Batavia: Koleksi Prasasti dan Nisan di Museum Kota

Sebarkan artikel ini
FotoJet 13 3
Museum Prasasti Kuno

KITAINDONESIASATU.COM – Museum Prasasti Kuno terletak di Jalan Tanah Abang 1, Jakarta Pusat, berdiri di atas tanah seluas 1,3 hektar yang dulunya merupakan lahan pemakaman Belanda bernama Kebon Jahe Kober.

Lokasi ini awalnya diperuntukkan bagi pejabat dan tokoh-tokoh penting dari masa kolonial, dengan ribuan batu nisan tersebar di antara pepohonan dan tanaman tropis.

Setelah kemerdekaan, lahan tersebut masih digunakan sebagai makam umum, khususnya oleh komunitas Kristiani, hingga akhirnya pada 1975 pemerintah memutuskan menutup area pemakaman dan merencanakan penataan kembali.

Dua tahun kemudian, pada 7 Juli 1977, Gubernur Ali Sadikin meresmikan transformasi lahan bekas pemakaman ini menjadi Museum Prasasti.

Tujuannya adalah melestarikan dan memamerkan prasasti—batu nisan berornamen ukir yang sarat nilai seni dan sejarah—sehingga pengunjung dapat “mendengarkan” kisah-kisah masa lampau melalui relief, tulisan, dan ornamen pada setiap prasasti.

Area yang dulu dipenuhi makam kini telah diatur rapi menjadi taman yang teduh, dengan jalan setapak yang mengundang tamu untuk menelusuri deretan prasasti dari berbagai era.

Koleksi museum menampilkan nisan pahlawan militer dan tokoh Belanda ternama seperti Mayor Jenderal JHR Kohler, Dr. WF Stuterheim, serta Dr. F. Roll.

Selain itu, terdapat pula prasasti milik Pieter Erberveld—tokoh kontroversial massa pemerintahan VOC—serta batu nisan nama-nama yang lebih beragam, misalnya Olivia M. Raffles dan sosok budaya seperti Miss Riboet.

Tidak ketinggalan, beberapa momen penting di abad ke-20 juga terwakili, misalnya batu nisan tokoh pergerakan kemerdekaan Soe Hok Gie, yang kemudian dipindahkan ke kawasan ini.

Dengan konsep taman terbuka, museum ini memadukan elemen alam dan warisan budaya,

memungkinkan pengunjung bukan saja mengagumi keindahan ukiran batu, tetapi juga merasakan ketenangan suasana hijau.

Pengelola menata setiap prasasti dengan memberi keterangan singkat, sehingga setiap batu nisan bisa dicerna makna historisnya.

Lewat penataan yang sistematis ini, Museum Prasasti Kuno berhasil menjaga nilai estetika dan edukasi, sekaligus mengangkat cerita perjalanan masyarakat Batavia–Jakarta dari abad ke-17 hingga abad modern.-***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *