KITAINDONESIASATU.COM – Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan budaya dan tradisi turun-temurun.
Berpusat di Palembang dan didukung oleh berbagai suku seperti Melayu, Komering, Ogan, Musi, dan Semendo, provinsi ini menawarkan kekayaan adat istiadat yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Jika Anda sedang mencari referensi budaya lokal Indonesia yang autentik, berikut ulasan lengkap tentang tradisi Sumatera Selatan yang unik, sakral, dan penuh filosofi.
Mari kita pelajari satu per satu tradisi adat yang menjadi identitas masyarakat Sumatera Selatan.
Berikut 8 Tradisi Sumatera Selatan
- Tradisi Pernikahan Adat Palembang
Pernikahan adat Palembang mencerminkan kemegahan dan filosofi budaya Melayu yang diwariskan dari masa kejayaan Sriwijaya.
Dalam prosesi ini, pengantin mengenakan busana mewah seperti Aesan Gede atau Aesan Paksangko, lengkap dengan aksesori emas yang melambangkan status dan kemuliaan. Rangkaian adat seperti mapare’ (melamar), madik (survei calon mempelai), dan cuci kaki menjadi simbol pembersihan dan restu dari orang tua.
Pesta biasanya disertai dengan Tari Tanggai, sebuah tarian sakral sebagai bentuk penghormatan pada tamu, serta sajian makanan tradisional. Masyarakat sekitar turut berperan aktif dalam prosesinya, menunjukkan kuatnya rasa kebersamaan dalam budaya Palembang.
- Sedekah Rame
Sedekah Rame adalah tradisi masyarakat Komering dan Ogan yang dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas panen atau keselamatan.
Tradisi ini diadakan secara bersama di balai desa atau halaman masjid, biasanya setelah masa panen atau saat kampung bebas dari bencana. Warga membawa makanan untuk disantap bersama, dan acara dimulai dengan doa, dilanjutkan pertunjukan seni seperti pencak silat, rebana, dan tarian daerah.
Tradisi ini mempererat hubungan antarwarga, serta menumbuhkan semangat gotong royong dan penghormatan terhadap alam. Selain sebagai bentuk spiritualitas, Sedekah Rame juga menjadi ajang hiburan dan edukasi budaya untuk anak muda.
- Nujuh Bulanan
Upacara nujuh bulanan adalah tradisi adat untuk mendoakan keselamatan ibu hamil dan bayi dalam kandungan yang telah menginjak usia tujuh bulan.
Dalam acara ini, dilakukan prosesi siraman menggunakan air bunga tujuh rupa oleh keluarga dekat, terutama orang tua dan mertua. Makna di balik ritual ini adalah permohonan agar persalinan lancar, ibu sehat, dan bayi lahir sempurna.
Selain siraman, keluarga juga menggelar doa bersama dan berbagi makanan kepada tetangga sebagai bentuk sedekah. Tradisi ini mencerminkan kesadaran spiritual dan nilai kekeluargaan yang tinggi di masyarakat Sumatera Selatan.
- Begotong dan Nganggung
Kehidupan sosial masyarakat Sumatera Selatan sangat lekat dengan semangat gotong royong, yang diwujudkan melalui tradisi begotong dan nganggung.
Begotong adalah kebiasaan warga bekerja sama dalam bertani, membangun rumah, atau membersihkan kampung tanpa mengharap imbalan. Sementara nganggung adalah tradisi membawa makanan dalam nampan besar ke masjid atau rumah tetua saat kenduri.
Kedua tradisi ini memperkuat rasa kebersamaan, tolong-menolong, dan solidaritas sosial. Di tengah modernisasi, praktik ini tetap dilestarikan karena dianggap sebagai bagian dari identitas budaya dan etika hidup bermasyarakat.
- Ngobeng
Ngobeng adalah tradisi makan bersama secara lesehan yang biasanya dilakukan saat hajatan, kenduri, atau perayaan keagamaan.
Warga duduk melingkar di atas tikar, berbagi satu talam besar berisi nasi dan lauk-pauk. Tanpa piring pribadi, semua mengambil makanan dari tempat yang sama, yang menunjukkan nilai kesetaraan dan kekeluargaan.
Ngobeng bukan hanya soal makan, tapi juga bentuk komunikasi sosial dan ekspresi keramahan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya hidup sederhana, saling berbagi, dan menjaga adab saat bersantap bersama.
- Festival Bidar
Festival Bidar adalah ajang lomba perahu tradisional yang digelar setiap tahun di Sungai Musi, Palembang, dan menjadi salah satu daya tarik budaya terbesar di Sumatera Selatan.
Perahu panjang yang disebut bidar diisi puluhan pendayung dan dihias meriah dengan ornamen warna-warni. Acara ini biasanya diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT RI, Maulid Nabi, atau Festival Sriwijaya.
Selain perlombaan, festival ini juga diiringi oleh pertunjukan seni dan musik tradisional. Semangat kompetisi, kerja tim, dan keindahan visual menjadikan Festival Bidar sebagai warisan budaya yang dinantikan masyarakat dan wisatawan.
- Dulmuluk
Dulmuluk adalah seni pertunjukan rakyat yang populer di Palembang dan sekitarnya, memadukan drama, musik, pantun, dan humor.
Pertunjukan ini sering menceritakan kisah Sultan Mahmud Badaruddin atau dongeng-dongeng kerajaan dengan pesan moral seperti keadilan, keberanian, dan keimanan. Aktor mengenakan busana khas dan menggunakan bahasa Melayu Palembang yang kental.
Dulmuluk dulunya ditampilkan keliling kampung, kini mulai dihidupkan kembali melalui panggung seni modern dan festival budaya. Tradisi ini merupakan bentuk hiburan sekaligus edukasi karakter bagi masyarakat.
- Ziarah Kubur
Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, masyarakat Sumatera Selatan memiliki kebiasaan ziarah ke makam keluarga atau leluhur sebagai bentuk penghormatan.
Kegiatan ini dikenal dengan istilah nyekar, yang dilakukan dengan membersihkan makam, menaburkan bunga, membaca doa, serta mengenang jasa orang tua atau kerabat yang telah meninggal.
Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan spiritual dengan leluhur, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keagamaan, kasih sayang, dan silaturahmi antaranggota keluarga. Ziarah menjadi momen reflektif dan penyambung nilai-nilai kehidupan.




