KITAINDONESIASATU.COM – Tradisi Ruwatan adalah tradisi unik dalam budaya Jawa yang masih bertahan hingga kini. Ritual ini bertujuan untuk melepaskan seseorang dari pengaruh buruk, kesialan, atau kutukan yang dipercaya akan menimpa karena faktor kelahiran atau kondisi tertentu.
Meski berakar dari kepercayaan kuno, tradisi ini mengandung nilai-nilai spiritual dan refleksi diri yang masih relevan dalam kehidupan modern.
Apa Itu Tradisi Ruwatan?
Secara etimologis, kata “ruwat” dalam bahasa Jawa berarti membebaskan, menyelamatkan, atau membersihkan. Tradisi ruwatan merupakan upacara adat yang dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar seseorang terhindar dari kesialan yang disebabkan oleh energi negatif, roh jahat, atau kutukan leluhur.
Ruwatan bukan sekadar prosesi mistis, tetapi juga mengandung unsur seni, budaya, dan spiritualitas yang dalam. Masyarakat Jawa percaya bahwa hidup seseorang bisa dipengaruhi oleh sengkala atau beban nasib buruk, yang bisa diruwat agar tidak berpengaruh dalam perjalanan hidupnya.
Siapa Saja yang Perlu Diruwat?
Menurut kepercayaan tradisional Jawa, tidak semua orang perlu diruwat. Hanya mereka yang masuk dalam kategori “anak sukerta”—anak-anak atau individu yang dianggap memiliki potensi kesialan menurut weton (penanggalan Jawa), kondisi kelahiran, atau peristiwa tertentu.
Berikut beberapa contoh orang yang biasanya diruwat:
- Anak tunggal (disebut ontang-anting)
- Anak kembar
- Anak yang lahir dalam urutan tertentu, seperti anak ketujuh dari tujuh bersaudara
- Anak lahir pada hari pasaran tertentu yang dianggap berat (misalnya Wage, Legi)
- Orang yang mengalami banyak musibah berturut-turut
- Orang yang ingin membersihkan diri secara spiritual, misalnya setelah mengalami peristiwa buruk
Dalam kepercayaan ini, proses ruwatan diyakini sebagai cara untuk memutus “tali nasib” yang buruk dan membuka jalan hidup yang lebih baik.
Proses dan Tahapan Tradisi Ruwatan
Tradisi ruwatan dilakukan dengan rangkaian prosesi yang melibatkan unsur spiritual, seni pertunjukan, dan ritual simbolik. Masing-masing tahap memiliki makna mendalam dalam membersihkan diri dari pengaruh negatif.
- Wayang Kulit Ruwatan (Lakon Murwakala)
Puncak ruwatan biasanya adalah pertunjukan wayang kulit, khususnya lakon Murwakala. Tokoh sentralnya adalah Batara Kala, makhluk mitologis yang dipercaya membawa celaka jika tidak “dijinakkan”.
Dalam lakon ini, seorang dalang memainkan kisah spiritual yang menggambarkan perjuangan manusia untuk membebaskan diri dari kutukan. Wayang ini bukan hanya tontonan, tapi media ruwatan yang penuh makna dan kekuatan spiritual.
- Siraman (Mandi Suci)
Setelah pertunjukan wayang, peserta ruwatan akan menjalani siraman—dimandikan dengan air kembang setaman tujuh rupa. Air ini dipercaya mampu membersihkan aura negatif dan menyegarkan semangat baru.
- Pemotongan Rambut
Bagian rambut peserta biasanya dipotong sedikit sebagai simbol melepaskan beban atau hal buruk dalam diri. Ini juga merupakan bentuk simbolik dari transformasi dan awal yang baru.
- Doa dan Sesaji
Doa dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sering kali disertai dengan sesajen berupa nasi tumpeng, jajanan pasar, bunga, dupa, dan ubo rampe lainnya. Ini adalah bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan perlindungan.


