KITAINDONESIASATU.COM – Salah satu budaya menarik di Nusa Tenggara Timur adalah tradisi unik milik Suku Sabu, yakni tradisi menyapa dengan cara menyentuhkan hidung.
Tradisi ini disebut Henge’do, dan memiliki makna yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Sabu.
Tradisi mencium hidung ini merupakan warisan budaya Suku Sabu (atau Savu), yang mendiami Pulau Sabu di Provinsi NTT.
Bagi wisatawan, tradisi ini menjadi pengalaman budaya yang unik dan tak biasa.
Menurut cerita yang berkembang, leluhur Suku Sabu berasal dari tempat yang sangat jauh dan menetap di pulau tersebut.
Seiring waktu, tradisi menyapa dengan menyentuhkan hidung ini tetap dilestarikan dan kini menjadi salah satu kekayaan budaya yang menarik perhatian wisatawan.
Bagi sebagian orang, menyentuhkan hidung saat bertemu mungkin terdengar aneh.
Namun, bagi Suku Sabu, ini adalah bentuk sapaan penuh makna. Mereka percaya bahwa hidung melambangkan ikatan kekeluargaan.
Oleh karena itu, tradisi ini dilakukan tanpa membedakan status sosial, usia, atau bahkan asal-usul seseorang.
Wisatawan pun bisa turut mencoba sapaan ini sebagai bagian dari interaksi budaya selama berada di sana.
Sekilas, tradisi ini mengingatkan pada budaya serupa milik Suku Maori di Selandia Baru.
Bedanya, masyarakat Sabu tidak menggosok hidung, melainkan hanya menyentuhnya dengan lembut.
Menariknya, tradisi ini berlaku universal, baik antar pria, wanita, orang muda, orang tua, hingga orang asing sekalipun.
Di samping menjadi bentuk sapaan, tradisi ini juga mencerminkan penghormatan kepada orang yang lebih tua serta mempererat hubungan sosial antarindividu.
Tradisi Henge’do masih terus dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat Sabu, dan bahkan mulai dikenal serta diadopsi oleh beberapa suku lain di wilayah NTT.
Bagi wisatawan, diperbolehkan untuk mencoba tradisi ini asalkan dilakukan dengan penuh rasa hormat dan memahami makna di baliknya.
Untuk mencapai Pulau Sabu dari Jakarta, wisatawan bisa naik pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara El Tari di Kupang, NTT.
Waktu penerbangan sekitar 2 jam 55 menit. Setibanya di Kupang, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Sabu yang menjadi tempat tinggal Suku Sabu.
Disarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal agar perjalanan lebih lancar dan pengalaman wisata lebih bermakna.-***


