KITAINDONESIASATU.COM – Al-Qur’an, kitab suci paling mulia yang diturunkan Allah SWT melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, bukan sekadar bacaan biasa. Ia adalah firman Allah, penuh petunjuk dan ilmu pengetahuan, serta menjadi amalan yang tak hanya berpahala, tetapi juga memuliakan pelakunya.
Membaca Al-Qur’an adalah ibadah. Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya menegaskan, tilawah Al-Qur’an termasuk bentuk taqarub paling utama, ketaatan terbesar, dan jalan menuju ganjaran mulia dari Allah.
تلاوة القرآن العظيم من أفضل العبادات وأعظم القربات وأجل الطاعات وفيها أجر عظيم وثواب كريم
Artinya: ‘’Aktivitas membaca Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah yang paling utama, taqarub teragung, dan ketaatan terbesar. Di dalam terdapat pahala yang besar dan ganjaran mulia. ‘’(Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya).
Rasulullah SAW pun menegaskan dalam hadits. “Ibadah paling utama dari umatku adalah membaca Al-Qur’an.” Lalu, “Siapa yang sibuk membaca Al-Qur’an hingga lupa berdoa, Aku akan memberinya anugerah lebih baik daripada yang Kuberikan kepada para peminta.”
Hadits lainnya, “Bacalah Al-Qur’an, karena kelak di hari kiamat ia akan datang memberi syafa’at bagi pembacanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Al-Ghazali bahkan mengingatkan, orang yang merasa ada pemberian yang lebih baik daripada nikmat membaca Al-Qur’an, berarti ia meremehkan kebesaran Allah. Sebab, tak ada pemberi syafa’at yang kedudukannya melebihi Al-Qur’an. Rasulullah SAW juga mengibaratkan hati manusia seperti besi yang bisa berkarat, dan tilawah Al-Qur’an adalah salah satu cara membersihkannya, bersama dengan mengingat kematian.
Maka, membaca Al-Qur’an bukan sekadar rutinitas, melainkan investasi akhirat yang pasti untung. Ia menjadi pelita hidup, pembersih hati, penolak bala, dan pengundang syafa’at di hadapan Allah kelak. Wallahu a’lam. (*)


