KITAINDONESIASATU.COM – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Sumatera dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh keberadaan Siklon Tropis Senyar yang muncul di kawasan Selat Malaka. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kemunculan siklon ini sebagai sesuatu yang jarang terjadi di Indonesia.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa kemunculan siklon tropis yang hingga melintas daratan merupakan kondisi tak lazim.
“Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum di wilayah perairan Selat Malaka, apalagi jika sampai melintasi daratan,” ucapnya dalam keterangan resmi BMKG.
Siklon Tropis Senyar yang muncul pada Rabu, 26 November 2025, merupakan hasil perkembangan dari Bibit Siklon 95B. Andri menambahkan bahwa siklon semacam ini pada dasarnya tak seharusnya terbentuk di Indonesia karena letaknya yang dekat dengan garis ekuator, yang secara teori kurang memungkinkan terbentuknya siklon tropis.
Meski demikian, dalam lima tahun terakhir, kejadian siklon tropis yang mendekati Indonesia semakin sering, termasuk fenomena terbaru Siklon Tropis Senyar.
Andri juga membandingkan kasus ini dengan peristiwa langka Siklon Vamei pada 2001.
“Kondisi ini memiliki kemiripan dengan kejadian langka Siklon Vamei pada tahun 2001 yang juga terbentuk di Selat Malaka pada lintang sangat rendah,” tuturnya.
Berdasarkan analisisnya, kemunculan siklon tersebut dipicu oleh berbagai anomali atmosfer, seperti penguatan monsun Asia, terbentuknya area konvergensi besar di Selat Malaka, suhu permukaan laut yang hangat, serta rendahnya shear angin.
Selain itu, faktor lain seperti peningkatan aktivitas konvektif dari fenomena regional—Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby Wave—serta pengaruh geografis Selat Malaka yang sempit turut mendukung pembentukan bibit siklon di area yang selama ini dianggap aman.
Andri juga mengingatkan bahwa “Perubahan pola cuaca dan tren siklon tropis yang semakin mendekati wilayah Indonesia perlu kita cermati dengan serius, karena hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sepenuhnya terlindungi dari ancaman siklon tropis, baik dari arah barat, utara maupun selatan,” ujarnya. (*)



