Lifestyle

Sentuhan Budaya Dayak dan Islam dalam Ornamen Rumah Bubungan Tinggi

×

Sentuhan Budaya Dayak dan Islam dalam Ornamen Rumah Bubungan Tinggi

Sebarkan artikel ini
FotoJet 3
Rumah Bubungan Tinggi di Kalimantan Selatan.

KITAINDONESIASATU.COM – Rumah Bubungan Tinggi merupakan salah satu rumah Baanjung yang merupakan rumah adat Suku Banjar di Kalimantan Selatan.

Masyarakat Banjar disebut juga Rumah Bubungan Tinggi atau Rumah Banjar atau Rumah Ba-anjung.

Rumah adat ini dulunya hanya ditinggali oleh Raja beserta keluarganya, sehingga rumah adat ini dianggap sebagai rumah adat dengan tingkatan paling tinggi dari semua jenis rumah adat lainnya.

Nama rumah adat Bubungan Tinggi mengacu pada bentuk atapnya yang curam dengan sudut 45 derajat dan menjulang ke atas. Rumah adat ini mulai dikenal masyarakat sejak abad ke-16, saat wilayah Banjar dipimpin oleh Sultan Suriansyah yang bergelar Panembahan Batu Habang (1596-1620).

Dalam perkembangan selanjutnya, Rumah Bubungan Tinggi tidak lagi dianggap sebagai rumah Raja karena banyak rumah sejenis dibangun di sepanjang wilayah tersebut, baik di istana maupun di daerah lainnya.

Rumah sejenis ini pada awalnya hanya diperuntukkan bagi para bangsawan dan saudagar kaya, kemudian diikuti oleh masyarakat Banjar pada umumnya. Saat ini, Rumah Bangunan Tinggi telah menjadi ciri khas rumah masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya masyarakat Banjar.

Menurut masyarakat Banjar, rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung, tetapi juga sebagai budaya, kepercayaan, sekaligus harapan.

Ungkapan tersebut diwujudkan mulai dari tata cara pembangunan, bentuk, hingga ornamennya.

Ungkapan budaya tersebut dapat dilihat dalam penentuan panjang dan lebar rumah menggunakan ukuran telapak tangan suami atau sekitar enam kaki (sekitar 1,8 meter), dengan harapan penghuninya akan hidup rukun di kemudian hari.

Selain itu, baik buruknya ukuran rumah juga ditentukan oleh delapan simbol binatang, yaitu naga, asap, singa, anjing, sapi, keledai, gajah, dan burung gagak. Sementara itu, panjang rumah yang ideal dilambangkan dengan naga, sedangkan lebar rumah yang ideal dilambangkan dengan gajah.

Selain mencerminkan kearifan lokal, ornamen pada Rumah Bubungan Tinggi juga dipengaruhi oleh unsur budaya Dayak serta nilai-nilai Islam.

Hiasan rumah ini banyak mengusung motif yang terinspirasi dari flora dan fauna, seperti buah manggis, belimbing, mengkudu, dan nanas.

Motif tanaman yang digunakan umumnya berasal dari tumbuhan yang memiliki nilai guna, seperti kangkung, jamur, cengkeh, rebung, dan sirih.

Beberapa jenis tanaman yang lazim digunakan dalam tradisi adat, seperti bunga cempaka, kenanga odorata, pakis, dan mawar, juga kerap dijadikan ornamen.

Pengaruh Islam tampak jelas melalui kehadiran kaligrafi Arab yang menghiasi bagian-bagian rumah, biasanya berupa kutipan ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an.

Rumah Bubungan Tinggi masih bisa ditemukan di wilayah Kalimantan Selatan, tepatnya di Dusun Tibung Raya dan Desa Gambah, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.-***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *