KITAINDONESIASATU.COM – Sastra lisan telah menjadi bagian penting dari tradisi berbagai suku di Indonesia, diwariskan secara turun-temurun.
Meskipun banyak cerita rakyat memiliki pola yang serupa, setiap daerah memiliki tokoh dan kisah khas yang mewarnai budaya setempat.
Namun, kekayaan sastra lisan sulit diukur karena umumnya hanya disampaikan secara verbal, dari generasi ke generasi. Tanpa dokumentasi tertulis yang memadai, banyak cerita lisan yang hilang seiring berjalannya waktu.
Lebih dari sekadar hiburan, sastra lisan, –yang sering dikenal sebagai cerita rakyat– memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.
Kisah-kisah seperti legenda Malin Kundang kerap menjadi pengantar tidur bagi anak-anak dan telah menjadi bagian dari memori kolektif bangsa.
Sebagai warisan budaya yang terus berkembang, cerita rakyat biasanya dimiliki oleh masyarakat secara luas.
Namun, ada bentuk sastra lisan yang lebih eksklusif, seperti korehan dari suku Dayak Pesaguan di Kalimantan Barat. Korehan bukanlah sastra yang bisa diakses oleh semua orang, melainkan hanya boleh dituturkan oleh kalangan bangsawan atau individu dengan kepentingan tertentu.
Aturan ketat ini membuat pelestariannya semakin menantang, bahkan tidak bisa diajarkan secara bebas di sekolah.
Suku Dayak Pesaguan sendiri bermukim di kawasan hulu Sungai Pesaguan, Kabupaten Ketapang.
Sastra korehan mengandung banyak nilai kehidupan, meskipun sering kali dikemas dalam kisah romansa dan keceriaan muda-mudi. Di balik cerita yang ringan, terdapat pesan moral yang mendalam.
Sayangnya, keberadaan korehan semakin langka. Namun, masih ada sosok-sosok yang berupaya melestarikannya, seperti Nenek Renia, seorang penutur korehan berusia 84 tahun.
Dengan fasih, ia terus menceritakan kisah-kisah yang diwariskan leluhurnya.
Dalam ajang Rekam Maestro yang diselenggarakan oleh GNFI dan Kemdikbud, Nenek Renia membagikan kisah tentang pesta penuh sukacita, di mana pria dan wanita menari mengikuti alunan musik, sembari menyampaikan pesan kehidupan yang berharga.
Namun, tantangan utama dalam menjaga korehan tetap hidup adalah penggunaan bahasa Dayak Pesaguan halus, yang hanya dapat dikuasai oleh sedikit orang.
Tidak semua orang bisa menjadi penutur sah, sehingga pelestarian korehan memerlukan perhatian lebih agar warisan budaya ini tidak hilang di tengah arus modernisasi.- ***


