Lifestyle

Rumah Betang: Benteng Tradisional Masyarakat Pedalaman Kalimantan

×

Rumah Betang: Benteng Tradisional Masyarakat Pedalaman Kalimantan

Sebarkan artikel ini
RUMAH BETANG
Rumah Betang di pedalaman Kalimantan.

KITAINDONESIASATU.COM – Rumah Betang merupakan rumah tradisional yang dibangun oleh masyarakat Suku Dayak yang tinggal di pedalaman Kalimantan.

Rumah ini mencerminkan gaya hidup komunal, di mana mereka hidup bersama dalam satu bangunan besar yang disebut juga Rumah Panjang.

Pada masa lampau, komunitas Dayak menetap secara berkelompok dan berbagi ruang dalam satu rumah besar sebagai bentuk solidaritas dan keamanan bersama.

Salah satu ciri khas Rumah Betang adalah bentuknya yang memanjang dengan hanya satu pintu masuk serta satu tangga utama yang disebut hejot.

Rumah ini dibangun di atas tiang-tiang tinggi untuk melindungi penghuninya dari gangguan luar seperti binatang liar, serangan musuh, maupun banjir.

Umumnya, rumah ini didirikan di tepi sungai besar yang menjadi jalur utama transportasi masyarakat Dayak.

Rumah Betang berukuran sangat besar, dengan panjang antara 30 hingga 150 meter, lebar sekitar 10 sampai 30 meter, dan ketinggian tiang antara 3 hingga 5 meter.

Untuk konstruksinya, digunakan kayu ulin yang terkenal kuat, tahan lama, dan antirayap, bahkan dapat bertahan selama ratusan tahun.

Satu rumah Betang biasanya dihuni oleh 100 hingga 150 orang dari beberapa keluarga.
Rumah ini dipimpin oleh seorang Pambakas Lewu, yaitu kepala suku.

Setiap keluarga memiliki ruang tinggal tersendiri di dalam rumah tersebut.

Di bagian depan rumah terdapat balai, tempat untuk menyambut tamu dan menggelar pertemuan adat.

Di area ini biasanya berdiri sapundu, yaitu patung totem berbentuk manusia yang digunakan untuk mengikat hewan kurban saat upacara.

Kadang-kadang, terdapat juga patahu, bangunan kecil sebagai tempat ibadah.

Sementara itu, di bagian belakang rumah terdapat tukau, balai kecil untuk menyimpan alat pertanian seperti lisung dan halu.

Selain itu, terdapat ruang penyimpanan senjata yang disebut bawong, serta Sandung, yakni tempat menyimpan tulang belulang anggota keluarga yang telah meninggal setelah menjalani upacara tiwah.-***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *