KITAINDONESIASATU.COM – Waktu setelah shalat Ashar di hari Jumat adalah momen langka yang dipercaya sebagai salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Dalam Ad-Daa’ wad Dawaa’ karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dijelaskan, doa akan lebih mudah dikabulkan jika hati benar-benar hadir, pikiran fokus pada hajat yang diminta, dan bertepatan dengan salah satu dari enam waktu terkabulnya doa.
Selain setelah Ashar di hari Jumat, waktu mustajab lainnya antara lain, sepertiga malam terakhir, saat azan berkumandang dan setelahnya, di antara azan dan iqamah, setelah shalat wajib, ketika imam naik mimbar di hari Jumat hingga selesai shalat Jumat. Semua ini akan semakin kuat jika diiringi kekhusyukan hati, kerendahan diri di hadapan Allah, dan kelembutan sikap penuh ketundukan.
Saat berdoa, dianjurkan menghadap kiblat dalam keadaan suci, mengangkat kedua tangan, memulai dengan memuji Allah dan bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW, mendahulukan taubat dan istighfar, lalu menyampaikan hajat dengan penuh harap dan cemas. Sertakan tawassul dengan nama dan sifat Allah, serta perbanyak sedekah sebelum berdoa. Doa seperti ini hampir mustahil tertolak.
Terlebih jika doa itu berasal dari Nabi SAW atau mengandung Asmaul Husna yang agung. Seperti doa yang diriwayatkan dalam as-Sunan dan Shahih Ibnu Hibban, ketika Rasulullah SAW mendengar seorang sahabat berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan persaksian bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Mu.” Mendengar itu, Nabi SAW bersabda: “Ia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang agung. Jika digunakan untuk meminta, pasti diberi. Jika digunakan untuk berdoa, niscaya dikabulkan.” (*)



