KITAINDONESIASATU.COM – Tak semua orangtua menyadari ketika anak mereka mengalami perundungan (bullying) di sekolah.
Dalam banyak kasus, orangtua baru mengetahuinya setelah bertahun-tahun saat anak akhirnya membuka diri.
Orangtua sebenarnya bisa mendeteksi tanda-tanda perundungan sebelum anak mengungkapkannya.
Tidak semua orang tua peka. Jika kita mau lebih peka, kita bisa melihat perubahan sikap pada anak.
Kepekaan ini dipengaruhi oleh kesediaan orangtua meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak. Tantangan muncul bagi orangtua yang bekerja jauh atau jarang berinteraksi langsung dengan anak.
Bahkan, orangtua yang hadir secara fisik mungkin tidak “terkoneksi” secara emosional dengan anak mereka.
Ada juga orangtua yang hanya fokus pada pencapaian akademis, menyediakan fasilitas, tapi kurang perhatian terhadap kondisi emosional anak.
Situasi ini bisa membuat orangtua kurang menyadari jika anak mereka menjadi korban perundungan.
Orangtua selayaknya lebih peka dengan berusaha terlibat dalam keseharian anak di sekolah, misalnya dengan bertanya tentang kegiatan atau perasaan anak di sekolah secara lebih mendalam.
Orangtua juga dianjurkan tidak hanya menanyakan hal-hal umum secara monoton, tetapi lebih bervariasi dalam bertanya, sehingga anak merasa nyaman bercerita.
Perubahan pada sikap anak, seperti menjadi pendiam atau sering terlihat sedih, bisa menjadi tanda adanya masalah.
Orangtua perlu memperhatikan perubahan kecil ini dan berusaha membangun koneksi yang kuat dengan anak.
Dengan begitu, anak akan merasa didukung dan lebih terbuka dalam menceritakan apa pun, termasuk jika mengalami perundungan.
Orangtua perlu menekankan kepada anak bahwa mereka bisa berbicara apa saja dan bahwa orangtua akan selalu ada untuk mendukung dan melindunginya.- ***


