KITAINDONESIASATU.COM – Sekelompok orang terlihat menikmati nasi liwet yang tersaji di atas daun pisang yang memanjang.
Mereka duduk bersila, menyantap nasi beserta aneka lauk seperti tempe goreng, tahu goreng, ayam goreng, ikan asin, sayur asam, sambal, serta lalapan.
Tanpa menggunakan alat makan, mereka menikmati makanan ini dengan tangan dalam suasana yang santai dan penuh kebersamaan.
Visualisasi serupa juga terjadi di gedung olahraga Sindangsari, Kelurahan Manggahang Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung.
Sejumlah orang yang tergabung dalam komunitas badminton, malam itu, menggelar acara syukuran atas keberhasilan penyelenggaraan turnamen.
Semua anggota komunitas menikmati nasi liwet yang tersaji di tengah lapang badminton.
Acara makan bersama ini, selain menghemat biaya, juga dapat mempererat kebersamaan.
Dalam tradisi ini, proses memasak dilakukan bersama-sama, menciptakan rasa solidaritas di antara para anggota.
Sejarah dan Perkembangan Nasi Liwet
Secara historis, istilah “liwet” merujuk pada metode memasak nasi yang umum dilakukan di pedesaan.
Tradisi ini telah berlangsung selama lebih dari 80 tahun dan masih lestari hingga saat ini. Bahkan, tren makan nasi liwet kembali berkembang berkat media sosial.
Menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman, nasi liwet pertama kali muncul di Solo, tepatnya di kawasan Mangkunegaran, pada era 1930-an.
Saat itu, Indonesia tengah mengalami krisis pangan, sehingga konsep makan bersama ini menjadi solusi efektif.
Tradisi ini dikenal dengan sebutan “bancakan,” yang menekankan aspek kebersamaan.
Meski memiliki kesamaan, nasi liwet Solo dan nasi liwet Sunda memiliki perbedaan. Nasi liwet Solo biasanya dimasak dengan areh (santan kental), sementara nasi liwet Sunda cenderung tidak menggunakan santan karena faktor geografis yang membatasi akses terhadap kelapa.
Selain itu, lauk nasi liwet Solo lebih banyak bercita rasa manis, sedangkan lauk nasi liwet Sunda cenderung lebih asin.
Dalam budaya Solo, nasi liwet sering dihidangkan dalam acara selamatan, sementara di Sunda, hidangan ini menjadi bekal bagi para petani saat bekerja di sawah atau kebun.
Dari Tradisi ke Tren Kekinian
Saat ini, nasi liwet tidak hanya dinikmati oleh masyarakat biasa, tetapi juga oleh kalangan artis dan selebritas.
Popularitas nasi liwet semakin meningkat dan kini tersedia di berbagai tempat, termasuk hotel berbintang.
Selain di Jawa, tren ini juga menyebar ke luar pulau, salah satunya di Makassar.
Dengan semakin banyaknya tempat yang menawarkan pengalaman makan nasi liwet, tradisi ini tidak hanya bertahan tetapi juga terus berkembang, memperkuat nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat modern.- ***




