Data ini memperkuat temuan baru bahwa teh hijau bukan sekadar pelengkap diet, tapi agen aktif dalam regulasi metabolisme.
Yang paling menarik adalah sifat efek selektif teh hijau: tikus kurus yang diberi teh hijau tidak kehilangan berat badan, sementara tikus obesitas mengalami penurunan lemak tubuh secara nyata. Ini menunjukkan bahwa teh hijau tidak sekadar “membakar kalori”, tapi bekerja secara cerdas—menargetkan simpanan lemak berlebih tanpa merusak jaringan sehat.
Selain itu, teh hijau terbukti meningkatkan penggunaan glukosa di otot rangka, membantu tubuh mengubah gula menjadi energi alih-alih menyimpannya sebagai lemak.
Hal ini sangat penting bagi pencegahan diabetes tipe 2, karena resistensi insulin turun drastis pada kelompok yang mengonsumsi teh hijau.
Kunci dari keajaiban ini ternyata terletak pada adiponektin—protein yang diproduksi oleh sel lemak dan memiliki peran besar dalam regulasi metabolisme serta sifat anti-inflamasi.
Peneliti menemukan bahwa teh hijau meningkatkan kadar adiponektin, yang kemudian membantu tubuh menjadi lebih responsif terhadap insulin, mengurangi peradangan kronis, dan meningkatkan pembakaran lemak.
Inilah alasan mengapa konsumsi teh hijau secara rutin dikaitkan dengan profil metabolisme yang jauh lebih sehat.


