Lifestyle

Meriam Ki Amuk, Ikon Bersejarah di Masjid Agung Banten

×

Meriam Ki Amuk, Ikon Bersejarah di Masjid Agung Banten

Sebarkan artikel ini
FotoJet 3 38
Meriam Ki Amuk, di Masjid Agung Banten

KITAINDONESIASATU.COM – Jika Anda sedang mencari destinasi wisata yang unik dan penuh nilai sejarah, Provinsi Banten bisa menjadi pilihan menarik.

Di Kabupaten Serang, tepatnya di Kecamatan Kasemen, terdapat Masjid Agung Banten yang dikenal tak hanya karena arsitekturnya, tetapi juga karena keberadaan Meriam Ki Amuk—sebuah peninggalan bersejarah yang menjadi daya tarik utama di kawasan tersebut.

Meriam Ki Amuk memiliki bentuk khas dan dibuat dari perunggu dengan bobot mencapai 7 ton, panjang sekitar 3 meter, dan diameter sekitar 70 cm.

Warna gelap meriam ini kontras dengan fondasi bercat merah bata yang menjadi tempat pijaknya.

Meskipun ukurannya tidak begitu besar, meriam ini menyimpan cerita menarik dan dipercayai oleh sebagian masyarakat memiliki kekuatan gaib.

Bahkan, konon meriam ini mampu memancarkan cahaya tertentu. Sebuah pagar dibangun untuk melindungi meriam ini, dan pengunjung yang datang ke Masjid Agung Banten tak lengkap rasanya jika tidak melihatnya langsung.

Asal Usul dan Nilai Sejarah

Meriam Ki Amuk diyakini memiliki kisah serupa dengan Meriam Jagur dari Jakarta. Namun, di mata masyarakat Banten, Ki Amuk dianggap lebih sakral.

Berdasarkan cerita rakyat, dulunya terdapat dua prajurit dari Kesultanan Demak bernama Jagur dan Amuk yang berubah menjadi meriam setelah terkena ilmu hitam.

Kisah ini menambah aura mistis dari peninggalan tersebut. Tak hanya itu, ledakan dari meriam ini pada masanya dikabarkan sangat dahsyat hingga mampu menggertak musuh.

Salah satu detail menarik dari meriam ini adalah ukiran dalam bahasa Arab bertuliskan “akibatul khairi salamatul iman”, yang artinya bisa ditanyakan langsung kepada penjaga masjid.

Menurut sejarah, meriam ini sudah ada sejak abad ke-17 dengan nama asli Desperant, yang kemudian diubah menjadi Ki Amuk. Sayangnya, tidak diketahui pasti alasan perubahan nama tersebut.

Selain mengagumi langsung bentuk fisiknya, pengunjung juga bisa melakukan berbagai aktivitas wisata di sekitar Meriam Ki Amuk, seperti berfoto dan mendalami sejarahnya.

Berdasarkan catatan, meriam ini diyakini dibuat oleh Koja Zaenal yang berbalik melawan Portugis dan menghadiahkan meriam tersebut kepada masyarakat Banten.

Meriam ini kemudian digunakan untuk mempertahankan Pelabuhan Karanghantu dari serangan Portugis.

Bagi pengunjung yang berangkat dari Jakarta, perjalanan menuju Kecamatan Kasemen di Banten menempuh jarak sekitar 90 km dan bisa dicapai dalam waktu kurang lebih dua jam.

Jalur utama yang sering digunakan adalah melalui Jalan Pantura. Setibanya di Kasemen, Anda hanya tinggal mengikuti petunjuk menuju Masjid Agung Banten.-***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *