Berita UtamaLifestyle

Mengenang KH Ali Manshur Shiddiq Sang Pencipta Shalawat Badar

×

Mengenang KH Ali Manshur Shiddiq Sang Pencipta Shalawat Badar

Sebarkan artikel ini
pencipta salawat badar
KH Ali Manshur Shiddiq (Ist)

KITAINDONESIASATU.COMPENCIPTA Shalawat Badar KH Ali Manshur Shiddiq mendapatkan anugerah Bintang Budaya Parama Dharma. Penghargaan diberikan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu 14 Agustus 2024 lalu, diterima oleh perwakilan ahli waris keluarga, dua putra KH Ali Manshur, KH Ahmad Syakir Ali dan Gus Saiful Islam Ali. 

Bagi warga NU dan masyarakat Indonesia Shalawat Badar tidak asimg lagi. Syair ini diawali dengan kata Shalatullah salamullah alaa thaha rasulillah. Shalatullah salamullah alaa yasin habibillah.

Shalawat ini terdiri dari 24 bait dengan dua baris di setiap baitnya. Namun siapa sebenarnya pengarang Shalawat Badar yang saat ini sudah menjadi Mars NU? Ternyata pencipta Salawat Badar adalah ulama asal Kabupaten Tuban.

Baca Juga  UGM Beberkan Soal Tuduhan Ijazah dan Skripsi Palsu Presiden Jokowi

Shalawat Badar dikarang oleh KH M Ali Manshur sekitar tahun 1960-an. Kiai Ali Manshur memiliki garis keturunan berdarah ulama besar. Dari ayah, tersambung hingga Kiai Shiddiq Jember sedangkan dari jalur ibu, tersambung dengan Kiai Basyar, seorang ulama di Tuban. “Abah dilahirkan di Jember pada 23 Maret 1921. Nasabnya masih menyambung ke Kiai Shidiq Jember. Kalau dari jalur ibu asli orang Tuban,” kata putra kedua Kiai Ali, Kiai Syakir Ali.

Salawat Badar sudah menjadi syair wajib bagi nahdliyin. Hampir setiap kegiatan NU, shalawat ini dilantunkan. Bahkan sudah merambah ke genre musik pop yang dipopulerkan oleh beberapa grup band dan penyanyi religi. Tak hanya di Indonesia, Shalawat Badar juga dikenal di berbagai belahan negara Islam di dunia.

Baca Juga  Kenali Tanda-Tanda Muntah pada Bayi yang Harus Diwaspadai

Kiai Ali terkenal haus ilmu. Ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lain. Mulai dari Pesantren Termas Pacitan, Pesantren Lasem, Pesantren Lirboyo Kediri hingga Pesantren Tebuireng Jombang. Kiai Syakir mengisahkan, waktu kecil Kiai Ali belajar di Tuban.

Setelah itu Kiai Ali ingin belajar ke Termas namun ia hanya punya modal sepeda onthel dan nasi jagung. Akhirnya dari Tuban ke Tremas, ia naik onthel dan bekal nasi jagung. Selama di pesantren Kiai Ali menerima jasa ojek ke pasar dan hasilnya untuk membeli kitab.

Baca Juga  Presiden Jokowi Mulai Berkantor di IKN Hingga Purnatugas

“Kiai Ali suka ilmu Arrudh (Ilmu Sya’ir), dan belajar ilmu ini di Lirboyo. Ia sering diajak diskusi pengasuh masalah Arrudh. Menurut Gus Dur, Kiai Ali juga pernah belajar di Tebuireng,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *