KITAINDONESIASATU.COM – Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh keistimewaan. Di bulan ini terdapat bulan kemuliaan yang banyak dinanti-nanti umat Muslim di dunia, yakni malam Lailatul Qadar.
Malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Di malam tersebut Allah SWT menjanjikan ampunan dan keberkahan bagi hamba-hamba yang menemuinya.
Lantas kapan terjadi malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadan tahun ini? Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasalam bersabda:
تَحَرَّوْا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان
Artinya, “Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir Ramadan.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Aisyah radliyallahu ‘anha)
Lebih khusus lagi, adalah malam-malam ganjil sebagaimana sabda beliau:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ
Artinya, “Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan)”. (HR. Al-Bukhari dari Aisyah radliyallahu ‘anha)
Dalam perhitungan atau prediksi Imam Al-Ghazali dan ulama lainnya, dalam kitab I’anatut Thalibin juz 2, hal. 257, bahwa untuk mengetahui malam Lailatul Qadar dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadan:
- Jika awalnya jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29.
- Jika awalnya jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21.
- Jika awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jumat maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27.
- Jika awalnya jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25.
- Jika awalnya jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23.
Maka jika mengaku pada prediksi matematis Imam Al-Ghazali di atas, sebagaimana diketahui awal puasa Ramadan pada hari Sabtu, 1 Maret 2025. Maka jika berpatokan dengan prediksi Imam Al-Ghazali malam Lailatul Qadar tahun ini diprediksikan jatuh pada malam ke-23, tanggal 23 Maret 2025 Masehi.
Kendati demikian, prediksi tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sebuah ketepatan. Namun, perhitungan malam Lailatul Qadar oleh Imam Al-Ghazali ini bisa dibilang representatif, karena Syekh Abu Hasan asy-Syadzili berpatokan dengan prediksi tersebut. Wallahu ‘Alam Bisshawab. (*)

