KITAINDONESIASATU.COM – Menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 5 September 2025, sejumlah daerah di Indonesia mulai menyiapkan tradisi menghias telur. Kegiatan ini banyak ditemukan di wilayah Bali, Banyuwangi, hingga Makassar, dan sudah menjadi bagian khas dari perayaan Maulid.
Sekilas, tradisi menghias telur ini mirip dengan perayaan Paskah, namun makna yang terkandung di dalamnya berbeda.
Dilansir dari laman resmi RRI, penggunaan telur dalam peringatan Maulid Nabi memiliki nilai simbolis yang mendalam. Telur melambangkan tiga konsep utama dalam ajaran Islam, yakni Iman, Islam, dan Ihsan.
Setiap lapisan telur—kulit, putih, hingga kuning—merepresentasikan kekuatan iman, kesucian hati, dan kebaikan seorang mukmin.
Dalam tradisi ini, telur bebek biasanya digunakan sebagai simbol kepasrahan dalam ibadah, sebab bebek bertelur dalam diam. Telur direbus hingga matang lalu ditancapkan pada batang pohon pisang yang telah dihias. Pohon pisang sendiri melambangkan ketahanan spiritual dan kelangsungan hidup, karena meski batangnya dipotong, ia akan tumbuh kembali.
Selain telur, bunga mawar juga menjadi bagian penting dalam hiasan kembang endog.
Pemilihan bunga mawar berkaitan dengan kecintaan para sufi terhadap bunga tersebut. Tradisi ini pun dipercaya terinspirasi dari kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW saat Isra Mi’raj.


