KITAINDONESIASATU.COM – Pada bulan Muharram, terdapat amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan, yakni puasa Tasua dan Asyura. Lantas, apa itu puasa Tasua dan Asyura?
Menurut penjelasan dalam buku Puasa Bukan Hanya Saat Ramadhan karya Ahmad Sarwat Lc MA, tasua adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari kata tis’ah yang berarti sembilan. Sedangkan Asyura berasal dari kata asyarah yang berarti sepuluh. Dari pengertian tersebut, diketahui bahwa puasa Tasua dan Asyura dilakukan secara berurutan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
Jika mengacu pada kalender resmi Kementerian Agama, kedua tanggal tersebut diperkirakan jatuh pada 4–5 Juli 2025 mendatang.
Penetapan syariat puasa Tasua dan Asyura berkaitan erat dengan kebiasaan Rasulullah SAW dan para nabi sebelumnya. Awalnya, Nabi Muhammad SAW telah melaksanakan puasa Asyura saat masih tinggal di Mekkah. Hal ini merupakan tradisi yang juga dilakukan oleh kaum Quraisy di masa jahiliah. Aisyah RA menuturkan:
“Dahulu orang Quraisy berpuasa Asyura pada masa jahiliah. Dan Nabi-pun berpuasa Asyura pada masa jahiliah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa Asyura dan memerintahkan manusia juga untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, beliau berkata, ‘Bagi yang hendak puasa silakan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa.’” (HR Bukhari no 2002 dan Muslim no 1125)
Saat tiba di Madinah, Nabi SAW melihat kaum Yahudi juga berpuasa Asyura. Maka, beliau memerintahkan para sahabat untuk ikut melaksanakannya. Namun setelah kewajiban puasa Ramadhan diturunkan, Rasulullah SAW tidak lagi mewajibkan maupun melarang puasa Asyura. Dengan demikian, puasa ini menjadi amalan sunnah.
Ibnu Abbas berkata:
“Ketika Nabi SAW berpuasa Asyura, beliau juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani?’ Maka Rasulullah berkata, ‘Kalau begitu, tahun depan, insya Allah, kita akan puasa bersama tanggal sembilannya juga.’ Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu.” (HR Muslim no 1134)


