KITAINDONESIASATU.COM – Dunia makin panas. China secara terbuka mengecam keras aksi berdarah yang menewaskan para petinggi Iran, sekaligus serangan brutal terhadap warga sipil yang disebut memperparah ketegangan di Timur Tengah.
Kecaman ini muncul setelah tewasnya tokoh penting Iran, Ali Larijani, dalam serangan mematikan yang juga merenggut nyawa putranya serta sejumlah pejabat keamanan lainnya. Pemerintah China menyebut insiden ini sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengaku pihaknya terkejut dan menegaskan bahwa pembunuhan terhadap pemimpin negara serta serangan ke warga sipil hanya akan memperkeruh situasi yang sudah memanas.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, justru mengklaim operasi militernya berhasil menewaskan Larijani dalam rangkaian serangan ke Iran yang terus berlangsung.
Konflik pun kian melebar. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi kematian komandan Basij, Gholamreza Soleimani, dalam serangan gabungan Amerika Serikat–Israel, menandai eskalasi yang semakin berbahaya.
Melihat situasi di ambang ledakan, China langsung bergerak cepat. Utusan khususnya untuk Timur Tengah, Zhai Jun, dikerahkan berkeliling ke berbagai negara kawasan untuk meredam konflik dan mendorong gencatan senjata.
Ia diketahui telah bertemu pejabat tinggi dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, hingga Mesir, serta berdialog dengan Liga Arab dan Dewan Kerja Sama Teluk demi mencari jalan damai.
Namun di tengah upaya diplomasi itu, ancaman balasan justru menggema dari Teheran. Pemimpin Iran, Mojtaba Khamenei, bersumpah akan membalas keras kematian para petinggi negaranya dan menyebut pelaku sebagai kriminal yang tak akan lolos dari hukuman.
Sejak akhir Februari, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan sekitar 1.300 orang di Iran. Sebagai balasan, Iran meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel dan negara-negara Teluk.
Tak berhenti di situ, Israel juga menggempur Lebanon sejak awal Maret, menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan lainnya, membuat kawasan Timur Tengah kini berada di titik paling genting.(*)



