Lifestyle

Liang Tedong-Tedong: Warisan Budaya Pemakaman Tradisional Toraja

×

Liang Tedong-Tedong: Warisan Budaya Pemakaman Tradisional Toraja

Sebarkan artikel ini
FotoJet 5 25
Liang tedong tedong

KITAINDONESIASATU.COM – Di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), terdapat kompleks pemakaman unik yang berada di Desa Balla Barat, Kecamatan Balla.

Makam-makam di lokasi ini memiliki bentuk menyerupai tedong atau kerbau, sebuah simbol yang memiliki makna penting dalam budaya setempat.

Di area pemakaman ini, terdapat deretan patung kayu berbentuk kerbau yang berjejer rapi.

Kompleks makam ini diperkirakan telah berusia ratusan tahun dan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Mamasa.

Menurut penuturan warga setempat, kompleks makam ini merupakan tempat peristirahatan leluhur orang Mamasa.

Setiap liang digunakan untuk menyimpan beberapa jenazah, yang kini hanya tersisa tulang belulang. Pengunjung yang datang bahkan dapat melihat langsung sisa-sisa jenazah tersebut.

Liang Tedong-Tedong adalah situs pemakaman khas yang terletak di Buntuballa, Kecamatan Balla. Tempat ini digunakan sebagai penyimpanan jenazah dalam erong, yaitu makam kayu tradisional yang telah berusia ratusan tahun.

Terdapat 19 erong di situs ini, dengan bentuk yang beragam, ada yang menyerupai perahu dan ada pula yang berbentuk tempat penyimpanan kerbau atau tedong.

Erong ini memiliki ukuran yang cukup besar, dengan diameter berkisar antara 70 hingga 120 cm, panjang sekitar 2 hingga 3 meter, serta tinggi 1 hingga 2 meter.

Material utama yang digunakan adalah kayu uru, sejenis kayu lokal berkualitas tinggi yang dikenal karena daya tahannya yang kuat.

Lokasi makam ini cukup unik karena berada di tepi jurang. Posisi ini dipilih dengan harapan agar pengunjung lebih berhati-hati saat mendekatinya.

Selain itu, ada kepercayaan masyarakat setempat bahwa kawasan ini dijaga oleh kawanan lebah.

Oleh karena itu, sebelum memasuki area makam, pengunjung disarankan untuk membawa Sirih Pinang sebagai bentuk penghormatan. Sesaji ini diletakkan di depan makam dengan harapan dapat diterima oleh penjaga gaib yang dipercaya melindungi tempat tersebut.

Tradisi ini dilakukan agar para penjaga makam tetap bersikap baik dan tidak mengganggu pengunjung yang datang.

Menurut kisah yang diwariskan secara turun-temurun, kawasan ini pernah mengalami banjir bandang yang sangat dahsyat.

Bencana tersebut menghanyutkan seluruh makam tua Tedong-Tedong beserta kayu-kayunya ke dalam arus sungai. Namun, secara ajaib, makam-makam yang terbawa air kembali ke lokasi semula, kecuali satu makam yang terseret jauh hingga ke Kecamatan Messawa.

Peristiwa ini semakin memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap keunikan dan kesakralan tempat ini.

Kini, Liang Tedong-Tedong telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Keberadaannya tidak hanya menjadi bukti sejarah dan tradisi pemakaman unik di wilayah tersebut, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya bagi pengunjung yang ingin mengenal lebih dalam tentang warisan leluhur.

Selain nilai sejarahnya, tempat ini juga menyuguhkan keindahan alam yang masih asri, menjadikannya destinasi yang menarik bagi para peneliti budaya, pecinta sejarah, maupun wisatawan yang ingin merasakan nuansa mistis khas Sulawesi Selatan.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *