Meski begitu, para ahli menilai hasilnya masih memiliki batasan karena kemungkinan kesalahan ingatan peserta tentang apa yang mereka konsumsi.
Ahli gizi dari University of Nevada–Las Vegas, Samantha Kogan, menegaskan pentingnya memahami keterbatasan metode tersebut. Sedangkan Joanne Salge Blake, profesor nutrisi dari Boston University, menambahkan bahwa manfaat kopi dan teh ini bersifat korelasi, bukan penyebab langsung.
Blake menjelaskan bahwa meski kopi dan teh mengandung kafein yang bersifat diuretik, efek kehilangan cairannya hanya sementara.
Bagi mereka yang rutin mengonsumsi minuman berkafein, tubuh biasanya sudah beradaptasi sehingga tidak kehilangan banyak cairan.
Selain menjaga hidrasi, kopi juga diketahui menurunkan risiko diabetes tipe 2, penyakit hati, beberapa jenis kanker, dan kematian dini.
Hal ini karena kopi mengandung antioksidan dan fitokimia alami, sama seperti yang terdapat pada buah dan sayuran. Teh pun memiliki kandungan serupa yang turut mendukung kesehatan jangka panjang.***



