Perubahan apa pun dalam kualitas makanan dapat langsung mempengaruhi komposisi mikrobioma.
Interaksi kompleks ini menjelaskan mengapa suatu diet bekerja bagi sebagian orang namun gagal bagi lainnya. Penurunan berat badan ternyata bukan hanya soal menghitung kalori, tetapi juga respons saraf dan mikroorganisme di tubuh.
Pemahaman baru ini membuka peluang untuk mengembangkan terapi obesitas non-tradisional, termasuk menargetkan area otak tertentu atau memodifikasi bakteri usus lewat suplemen maupun obat personal.
Dengan jumlah penderita obesitas global yang telah melampaui satu miliar orang, terobosan seperti ini sangat dibutuhkan.
Peneliti Liming Wang menekankan bahwa tantangan selanjutnya adalah mengidentifikasi mekanisme pasti dari hubungan otak–mikrobioma tersebut dan menentukan bagian mana yang berperan penting dalam proses mempertahankan berat badan.
Temuan ini sekaligus membuka perspektif baru tentang mengapa sebagian orang begitu sulit menjaga berat badan tetap stabil, atau mudah kembali gemuk setelah diet. Riset tersebut juga menunjukkan bahwa strategi diet efektif mungkin harus menargetkan otak dan usus, bukan semata mengurangi kalori.***


