Meski istilah tersebut makin populer, sejumlah pihak—baik ilmuwan maupun industri makanan—menganggap kategorisasi ini terlalu disederhanakan dan perdebatan mengenai klasifikasi ini kian bernuansa politis.
Penulis makalah di The Lancet mengakui adanya kritik itu, namun menegaskan bahwa lebih banyak penelitian tetap diperlukan, terutama mengenai bagaimana dan mengapa makanan ultra-olahan membuat tubuh rentan terhadap penyakit, termasuk variasi produk dalam kategori tersebut yang memiliki nilai gizi berbeda.
Sinyal Bahaya Sudah Terlalu Jelas
Dalam tinjauan sistematis terhadap 104 studi jangka panjang, 92 di antaranya menunjukkan peningkatan risiko satu atau lebih penyakit kronis akibat konsumsi makanan ultra-olahan. Ada hubungan kuat dengan 12 kondisi kesehatan, termasuk diabetes tipe 2, obesitas, serta depresi.
“Faktor utama ledakan makanan ultra-olahan secara global adalah kekuatan ekonomi dan politik industri makanan itu sendiri, serta perubahan dalam sistem pangan yang berorientasi pada keuntungan,” tulis para peneliti.
Kesimpulan mereka jelas: makanan ultra-olahan meningkatkan risiko kesehatan serius, termasuk obesitas, penyakit jantung, kanker, hingga kematian dini.***





