Profesor Bhandari menjelaskan bahwa kalium perklorat memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika radikal bebas meningkat secara berlebihan sehingga mengganggu gen dan jalur biologis penting dalam pembentukan sperma.
Vitamin C, yang dikenal sebagai antioksidan kuat, terbukti mampu menekan stres oksidatif tersebut dan membantu memulihkan keseimbangan molekuler yang diperlukan untuk kesuburan pria.
Temuan ini dinilai relevan di luar laboratorium, mengingat kalium perklorat kini dikategorikan sebagai polutan lingkungan yang muncul. Zat ini ditemukan di berbagai area industri dan militer.
Penelitian sebelumnya bahkan menunjukkan bahwa personel militer dan pekerja bahan peledak cenderung memiliki kadar kalium perklorat lebih tinggi dalam darah, yang diduga berkaitan dengan risiko infertilitas.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa vitamin C bukanlah obat, melainkan potensi langkah pencegahan.
Studi lanjutan pada manusia masih diperlukan untuk memastikan efektivitas, dosis aman, serta manfaat klinisnya secara langsung.***


