Kadar gula darah tinggi sendiri merupakan ciri utama diabetes, kondisi kronis yang terjadi akibat gangguan produksi atau kerja hormon insulin.
Jika tidak terkontrol, diabetes dapat memicu komplikasi serius pada jantung, ginjal, mata, dan sistem saraf.
Karena tingginya risiko tersebut, para ilmuwan terus meneliti potensi peran suplemen nutrisi, termasuk omega-3, sebagai pendamping terapi medis. Namun hingga kini, hasilnya belum sepenuhnya konsisten.
Salah satu kajian besar yang terbit pada 2024 dalam jurnal Current Nutrition Reports menganalisis sekitar 30 uji klinis yang melibatkan penderita diabetes tipe 1, tipe 2, dan diabetes gestasional. Peserta diberikan suplemen omega-3 dengan variasi dosis dan bentuk selama enam hingga 12 bulan.
Hasilnya menunjukkan perbedaan respons. Sebagian peserta mengalami penurunan kadar gula darah puasa, sementara kelompok lainnya tidak menunjukkan perubahan berarti.
Peneliti menduga variasi ini dipengaruhi oleh durasi penelitian, usia peserta, lama menderita diabetes, serta dosis omega-3 yang dikonsumsi.


