Artinya, kesepian lebih berpengaruh pada kondisi memori awal daripada kecepatan penurunannya.
Peneliti utama, Luis Carlos Venegas-Sanabria dari Universidad del Rosario, Colombia, mengatakan temuan ini mengejutkan.
“Kesepian mungkin memainkan peran lebih besar pada keadaan memori awal daripada penurunan bertahap,” ujarnya.
Kesepian diukur melalui tiga pertanyaan sederhana tentang perasaan terisolasi, terpinggirkan, atau kurang memiliki teman. Sementara tes memori melibatkan mengingat daftar kata baik secara langsung maupun setelah jeda waktu.
Temuan ini menambah perdebatan ilmiah mengenai hubungan kesepian dengan risiko demensia.
Meski kesepian dan isolasi sosial sering disebut sebagai faktor risiko, hasil penelitian sebelumnya masih beragam.
Para ahli menekankan pentingnya mengatasi kesepian pada lansia. Interaksi sosial yang rutin, kegiatan komunitas, atau sekadar menjaga hubungan dengan keluarga dan teman bisa membantu menjaga kesehatan memori.



