KITAINDONESIASATU.COM-Kabupaten Serang tercatat sebagai daerah dengan kasus Tuberculosis (TBC) tertinggi, meski penemuan kasus TBC baru 60 persen atau sekitar 2.000 orang. Sementara itu, Kota Tangerang merupakan daerah teringgi penderita pneumonia di Banten.
Kata Istianah, pihaknya sedang mencari penemuan kasus secara aktif maupun pasif. Seperti melakukan pemeriksaan screening di pondok pesantren, dan tempat-tempat yang diduga atau berisiko tinggi terjadinya TBC. “Termasuk melakukan investigasi kontak yaitu kalau ada satu kasus di lingkungan, warga kita periksa semuanya. Seperti contoh kemarin kita temukan satu kasus TBC positif di sekolah. Nah, kita lakukan screening di sekolah tersebut untuk mengetahui apakah ada juga murid yang ain terkena TBC. Semisal, ada kontak serumah tapi dia tidak menderita TBC, maka kita berikan namanya TPT, terapi pencegahan TBC. Ini untuk percepatan penuntasan tuberkulosis,” katanya.
Istianah Hariyanti Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Serang mengatakan, pemeriksaan terduga TBC di Kabupaten Serang sudah mencapai 92 persen dari target. Memang penemuan kasus baru diangka 60 persen atau sudah ada sekitar 2.000 orang. “Kenapa kita masih belum menemukan 100 persen? Karena masih banyak masyarakat yang belum memiliki kesadaran bahwa dirinya memiliki gejala dan tidak memeriksakan dirinya ke puskesmas,” ujarnya , kemarin
Jika sudah ada kontak dengan pasien TBC, artinya sudah ada kuman dalam tubuhnya, supaya tidak berkembang menjadi penyakit, maka akan diberikan obat TPT. Pemberian TPT pun saat ini intensif dilakukan.
Sebelumnya, pada akhir Oktober Kota Tangerang memiliki kasus pneumonia tertinggi di Banten. Tingginya angka tersebut bukan berarti kondisi memburuk, namun merupakan bukti kerja aktif tenaga kesehatan. “Kasus pneumonia tersebar di seluruh wilayah Banten, tetapi penemuan terbanyak terjadi di Kota Tangerang,” Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti.
Ati menilai, peningkatan penemuan kasus menunjukkan tenaga kesehatan bekerja cepat mendeteksi dan mengobati pasien. Dengan deteksi dini, angka kematian akibat pneumonia dapat ditekan.
Pneumonia sering memiliki gejala mirip bronkopneumonia atau tuberkulosis, seperti batuk berkepanjangan dua hingga empat minggu.
Ati mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala tersebut.
Diagnosis dapat dilakukan melalui rontgen dada atau uji dahak untuk membedakan pneumonia, TBC, atau ISPA.
Ia menambahkan, pemerintah tengah menjalankan program vaksinasi pneumonia bagi anak usia dua, tiga, dan empat bulan.
Target penemuan kasus pneumonia di Banten mencapai 116.000 kasus, namun baru sekitar 68 persen terdeteksi. “Seluruh puskesmas, klinik, dan rumah sakit harus waspada terhadap pasien dengan batuk berkepanjangan,” ujar Ati.
Setiap pasien dengan gejala itu perlu dicurigai mengarah ke pneumonia atau TBC. Ati berharap deteksi dini dan penanganan cepat mampu menekan angka kematian akibat pneumonia maupun TBC di Banten. (*)





