Meski terdengar positif, percepatan ini justru dinilai bermasalah.
Penulis utama studi, Dr Huang Bai, menjelaskan bahwa pematangan yang terjadi terlalu dini dapat mengurangi fleksibilitas otak.
Ia menyebut jaringan yang mengatur penglihatan dan persepsi menjadi cepat terspesialisasi, bahkan sebelum membangun koneksi saraf yang optimal untuk mendukung proses berpikir kompleks.
“Akibatnya, anak menjadi kurang adaptif karena otak kehilangan kelenturan yang seharusnya berkembang secara bertahap,” ujar Huang.
Dampak jangka panjangnya terlihat jelas. Anak-anak dalam kelompok paparan layar tinggi tercatat mengalami perlambatan dalam pengambilan keputusan pada usia 8,5 tahun, serta menunjukkan gejala kecemasan yang lebih tinggi saat menginjak usia 13 tahun.
Namun, studi ini juga menghadirkan secercah harapan. Para peneliti menemukan bahwa aktivitas membaca interaktif antara orang tua dan anak dapat berfungsi sebagai penyeimbang.


