Penelitian juga menemukan bahwa penuaan di usus bersifat tidak merata. Usus terdiri dari unit kecil bernama crypts, yang masing-masing berasal dari satu sel punca. Jika sel punca tersebut mengalami penuaan epigenetik, seluruh sel dalam crypt akan mewarisi perubahan yang sama.
Selain itu, penurunan kadar zat besi di dalam sel usus yang menua turut memperburuk kondisi. Kekurangan zat besi menghambat kerja enzim TET, enzim penting yang berfungsi membersihkan metilasi DNA berlebih. Akibatnya, gen-gen penting menjadi tidak aktif.
Peradangan ringan yang sering menyertai penuaan juga mempercepat proses ini. Kombinasi gangguan zat besi, peradangan, dan melemahnya sinyal Wnt mempercepat penuaan usus sekaligus meningkatkan peluang munculnya sel kanker.
Meski demikian, para peneliti menemukan secercah harapan. Dalam eksperimen menggunakan organoid usus, mereka berhasil memperlambat bahkan sebagian membalikkan perubahan epigenetik dengan memulihkan penyerapan zat besi atau meningkatkan pensinyalan Wnt.***

