Ikatan kuat ini mengindikasikan efektivitas lidah buaya dalam memperlambat aktivitas enzim pemicu Alzheimer.
Selain uji efektivitas, aspek keamanan juga dievaluasi lewat analisis ADMET (Absorption, Distribution, Metabolism, Excretion, Toxicity).
Analisis ini memprediksi bagaimana senyawa beta sitosterol untuk Alzheimer diserap, didistribusikan, dan dikeluarkan tubuh.
Hasilnya menjanjikan: lidah buaya menunjukkan profil aman dengan risiko toksisitas rendah pada dosis terapeutik, membuka peluang pengembangan obat Alzheimer berbasis herbal.
Meski hasil simulasi komputer ini menggembirakan, para peneliti menekankan bahwa senyawa beta sitosterol untuk Alzheimer masih memerlukan uji laboratorium dan klinis untuk memastikan keamanan pada manusia.
Namun, temuan ini menjadi landasan penting bagi riset terapi alami Alzheimer di masa depan. “Pendekatan in silico kami membuka arah baru pengembangan obat Alzheimer dari lidah buaya,” tutup Khedraoui.
Riset terbaru 2026 juga menyebutkan bahwa ekstrak berbasis lidah buaya berpotensi lebih mudah ditoleransi tubuh dibanding obat sintetik, membuka peluang alternatif alami untuk manajemen Alzheimer.***
Sumber: Sciencedaily, moneycontrol.


