“Pola makan ternyata memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kesehatan sistem otot dan tulang. Akumulasi lemak yang berlebih akan mengubah struktur alami otot dan mengurangi kemampuannya menyerap tekanan saat kita bergerak. Akibatnya, beban kerja berlebih jatuh pada sendi lutut dan tulang rawan pelindungnya,” jelas salah satu peneliti.
Hasil Pengujian Ilmiah
Untuk membuktikan hal ini, tim peneliti menganalisis data dari 615 orang dengan usia rata-rata 60 tahun dalam proyek yang dikelola oleh National Institute of Arthritis, Musculoskeletal and Skin Diseases AS.
Setiap peserta menjalani pemindaian MRI untuk melihat kondisi otot paha secara rinci, sekaligus mencatat kebiasaan makan, indeks massa tubuh, serta tingkat aktivitas fisik mereka.
Hasilnya tetap konsisten: meskipun 65 persen peserta tergolong kelebihan berat badan dan 24 persen mengalami obesitas, hubungan langsung antara konsumsi makanan ultra-olahan dan peningkatan lemak di dalam otot tetap terlihat jelas pada seluruh kelompok.
Dengan demikian, temuan ini menambah daftar panjang dampak negatif jangka panjang dari makanan olahan.
Tidak hanya mengganggu metabolisme tubuh, kebiasaan ini juga secara diam-diam merusak kualitas otot dan sendi, yang pada akhirnya mengurangi kenyamanan serta kemampuan beraktivitas di masa tua nanti.***



