KITAINDONESIASATU.COM – Muntah pada bayi adalah hal yang umum terjadi. Namun, orang tua harus bisa membedakan antara muntah yang normal dan yang perlu diwaspadai.
Pada minggu-minggu awal kehidupannya, bayi sering mengalami muntah atau gumoh akibat sistem pencernaannya yang masih berkembang.
Muntah biasanya terjadi setelah bayi menyusu, karena otot antara kerongkongan dan lambung belum sepenuhnya kuat untuk menahan susu di lambung.
Selain itu, kapasitas lambung bayi yang masih kecil dapat menyebabkan susu kembali ke kerongkongan, terutama ketika bayi batuk atau menangis.
BACA JUGA: Ini Dampak Polusi Tanah terhadap Kesehatan
Kondisi ini biasanya berkurang saat bayi berusia sekitar 4–5 bulan, seiring dengan semakin kuatnya otot tersebut.
Meskipun muntah seringkali normal, ada beberapa tanda yang harus diwaspadai, seperti muntahan yang berwarna kuning atau hijau, disertai demam, sakit perut, atau pembengkakan.
Jika muntah terjadi setelah cedera kepala, ada darah dalam muntahan, atau berlangsung terus-menerus lebih dari satu hari, segera cari bantuan medis.
Beberapa penyebabnya yang tidak normal antara lain keracunan makanan, infeksi bakteri atau virus, infeksi telinga, pneumonia, hepatitis, usus buntu, atau bahkan meningitis dan gegar otak.
Untuk mencegah muntah yang normal, setelah menyusu, gendong bayi dengan posisi tegak selama sekitar 30 menit agar susu dapat masuk ke lambung dengan baik.
Selain itu, biasakan menyendawakan bayi setelah makan. Jika bayi sering muntah, penting untuk memastikan ia tidak mengalami dehidrasi.
Jika berlangsung kurang dari 24 jam, berikan cairan elektrolit atau oralit sedikit demi sedikit.
Hindari memberikan air putih, jus, atau minuman berkarbonasi, karena dapat memperburuk keadaan bayi, terutama jika ia juga mengalami diare.
Jika berlangsung lebih dari 24 jam atau bayi menunjukkan tanda-tanda dehidrasi seperti jarang buang air kecil, mulut kering, atau pernapasan cepat, segera periksakan ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.- ***




