KITAINDONESIASATU.COM – Umat Islam di seluruh dunia tengah menanti sebuah momen agung Maulid Nabi Muhammad SAW 2025. Peringatan kelahiran Rasulullah bukan sekadar tanggal bersejarah, tapi juga bukti nyata cinta umat kepada junjungan kita, Nabi terakhir yang diutus Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Dalam kalender Masehi, Maulid Nabi 2025 akan jatuh pada Jumat, 5 September 2025, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1447 Hijriah. Tanggal ini telah resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional, sehingga umat Islam bukan hanya bisa memperingatinya dengan khidmat, tapi juga menikmati long weekend tiga hari berturut-turut: Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Rinciannya, yakni Jumat, 5 September 2025: Libur Nasional Maulid Nabi SAW; Sabtu, 6 September 2025: Libur akhir pekan; dan Minggu, 7 September 2025: Libur akhir pekan
Perayaan Maulid Nabi sejatinya adalah wujud kecintaan kita kepada Rasulullah SAW. Allah sendiri menegaskan hal ini dalam QS. Ali Imran ayat 31,
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِ٣١
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad SAW), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Sejarah Singkat Maulid Nabi
Nabi Muhammad SAW lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (sekitar 570–571 M). Kelahirannya membawa cahaya peradaban dan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Tradisi memperingati Maulid baru berkembang beberapa abad setelah wafatnya Rasulullah. Sejarah mencatat Raja al-Muzhaffar Abu Sa’id Kaukabri dari Irbil, Irak, sebagai salah satu tokoh pertama yang mengadakan perayaan Maulid secara meriah. Ada juga riwayat yang menyebut Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, yang menjadikan Maulid sebagai momentum syiar dan penguat semangat umat Islam kala itu.
Kini, peringatan Maulid Nabi terus dilestarikan di berbagai penjuru dunia dengan beragam tradisi, mulai dari pembacaan salawat, kajian sirah Nabawiyah, hingga majelis dzikir. Semua itu berakar pada satu tujuan, yaitu menghidupkan cinta kepada Rasulullah SAW.
Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi. Ia adalah pengingat bahwa kehadiran Rasulullah SAW adalah nikmat terbesar bagi umat manusia.
Dari beliaulah kita belajar akhlak mulia, kesabaran, kepemimpinan, dan kasih sayang. Dengan memperingati Maulid, umat Islam diharapkan semakin mantap menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri teladan terbaik dalam kehidupan sehari-hari. (*)


