KITAINDONESIASATU.COM – Kampung Adat Ammatoa terletak di Desa Tana Towa, Kecamatan Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Memasuki kawasan ini, pengunjung akan melewati pendopo kayu beratap jerami khas dengan warna dominan hitam dan tulisan “Selamat Datang di Kampung Adat Ammatoa”.
Warna hitam memiliki makna filosofis mendalam bagi suku Kajang, penghuni desa ini. Bagi mereka, hitam melambangkan siklus hidup, dari kegelapan dalam rahim hingga kembali ke tanah saat meninggal.
Warna ini pun mendominasi pakaian sehari-hari mereka, dari baju hingga topi.
Kawasan kampung dikelilingi oleh hutan lebat dan bebatuan yang tersebar di sepanjang jalan.
Rumah-rumah warga berupa rumah panggung dari kayu, seragam dalam bentuk dan arah hadap. Di sekitar rumah, mereka memelihara hewan seperti ayam, sapi, dan kuda.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Kajang masih memegang teguh mitos dan tradisi yang diwariskan leluhur.
Mereka menjalani hidup berdasarkan Pasang, yaitu ajaran lisan yang menjadi pedoman dalam menjaga keseimbangan hidup, alam, dan sesama.
Pemimpin adat yang disebut Ammatoa memiliki peran penting sebagai penjaga nilai-nilai ini, sekaligus mendoakan keselamatan manusia dan alam sekitar.
Masyarakat juga meyakini bahwa Tana Towa adalah tanah paling tua di dunia, tempat bermulanya kehidupan.
Kampung Ammatoa tetap menjaga keaslian adatnya dan menolak modernisasi.
Jalan berbatu dan tenda di gerbang masuk menjadi batas nyata antara kehidupan modern dan kehidupan tradisional suku Kajang.-***




