LifestyleKesehatan

Inilah Bahaya Memanaskan Kembali Makanan Favorit yang Tak Banyak Orang Tahu, Kata Pakar IPB University

×

Inilah Bahaya Memanaskan Kembali Makanan Favorit yang Tak Banyak Orang Tahu, Kata Pakar IPB University

Sebarkan artikel ini
Memanaskan kembali makanan
Ilustrasi memanaskan kembali makanan (IPB University)

Dr. Karina juga mengingatkan tentang memanaskan kembali makanan prasmanan atau take-away. Makanan seperti ini sering kali tidak jelas kapan dimasak dan apakah memenuhi standar keamanan pangan. Kondisi itu meningkatkan risiko bakteri, sehingga pemahaman tentang penyimpanan makanan dan suhu pemanasan yang sesuai menjadi hal penting.

Risiko terbesar dari memanaskan kembali makanan yang tidak benar adalah keracunan makanan. Suhu dan durasi pemanasan ulang yang tidak memadai membuat keamanan pangan menurun dan memberi peluang bagi risiko bakteri berkembang.

Oleh sebab itu, aturan penyimpanan makanan dan pemanasan internal yang sesuai standar perlu diperhatikan.

Dr. Karina menyarankan agar memanaskan kembali makanan dilakukan hingga panasnya merata ke bagian dalam, bukan hanya permukaannya. Untuk menjamin keamanan pangan, suhu internal sebaiknya mencapai minimal 70°C selama dua menit, 75°C selama 30 detik, atau 80°C selama 6 detik. Teknik ini efektif meminimalkan risiko bakteri dan memaksimalkan keamanan hasil penyimpanan makanan.

Selain pemanasan, penyimpanan makanan yang tepat juga sangat menentukan. Dr. Karina menekankan bahwa memanaskan kembali makanan yang telah lama disimpan berpotensi menurunkan keamanan pangan. Dengan pembagian porsi kecil, wadah tertutup rapat, dan suhu dingin, risiko bakteri dapat ditekan.

Makanan yang baru dimasak bisa disimpan di lemari es selama 3–4 hari atau dibekukan di freezer hingga 3–4 bulan. Namun, semakin lama penyimpanan makanan, semakin besar pula perubahan rasa dan teksturnya. Dr. Karina mengingatkan agar memanaskan kembali makanan dilakukan dengan standar keamanan pangan tinggi supaya risiko bakteri tetap rendah.

Metode memanaskan kembali makanan juga penting diperhatikan. Hidangan berkuah sebaiknya didihkan, sedangkan yang tanpa kuah bisa dikukus, ditumis, dipanggang, atau dipanaskan dengan microwave, oven, maupun air fryer. Teknik ini membantu menjaga keamanan pangan, mengurangi risiko bakteri, dan memaksimalkan kualitas hasil penyimpanan makanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *