KITAINDONESIASATU.COM – Pernah merasa waktu 24 jam sehari tetap saja kurang untuk menyelesaikan pekerjaan?
Bisa jadi penyebabnya adalah manajemen waktu yang belum tepat. Agar tidak semakin stres, penting untuk mulai menerapkan strategi pengaturan waktu yang efektif.
Meski jam kerja sudah diatur perusahaan, banyak pekerja tetap lembur demi menuntaskan pekerjaan menumpuk.
Kondisi ini sering terjadi akibat manajemen waktu yang kurang baik.
Walaupun pekerjaan selesai, kebiasaan lembur dapat meningkatkan risiko stres, kelelahan, hingga burnout.
Jika berlangsung terus-menerus, hal ini bisa menurunkan kinerja dan memicu masalah kesehatan.
Sebenarnya, 24 jam cukup untuk beraktivitas jika kamu mampu mengelola waktu dengan baik.
Perencanaan yang tepat membuat pekerjaan, waktu istirahat, hingga aktivitas pribadi tetap seimbang tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Beberapa langkah manajemen waktu yang bisa dicoba, antara lain: pertama, kenali waktu produktifmu.
Ada orang yang semangat bekerja sejak pagi, ada pula yang lebih fokus menjelang siang.
Dengan memahami waktu terbaik, kamu bisa lebih mudah menyusun strategi kerja.
Kedua, buat jadwal harian. Meskipun sederhana, catatan aktivitas dapat membantu rutinitas berjalan lebih teratur.
Namun, jadwal hanya akan efektif jika kamu konsisten menjalankannya tanpa menunda-nunda.
Ketiga, susun skala prioritas. Tentukan pekerjaan mana yang mendesak dan penting untuk diselesaikan terlebih dahulu, lalu lanjutkan ke tugas berikutnya.
Hindari multitasking berlebihan karena bisa menurunkan kualitas kerja.
Keempat, batasi penggunaan gadget untuk hiburan. Penggunaan yang berlebihan sering membuat waktu terbuang sia-sia. Idealnya, waktu bermain gadget cukup 30 menit sehari.
Kelima, terapkan teknik Pomodoro, yaitu bekerja 25 menit lalu istirahat 5 menit. Setelah empat sesi, berikan waktu istirahat lebih lama 15–30 menit agar tubuh tetap bugar.
Dengan manajemen waktu yang baik, aktivitas harian akan lebih teratur, produktivitas meningkat, dan kesehatan fisik maupun mental tetap terjaga.
Jika masih merasa kesulitan hingga stres, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog.-***




