Lifestyle

Ingin Hapus Tato? Ini Metode dan Risikonya!

×

Ingin Hapus Tato? Ini Metode dan Risikonya!

Sebarkan artikel ini
FotoJet 1 9
Tato.

KITAINDONESIASATU.COM – Menghapus tato permanen hanya bisa dilakukan melalui prosedur medis, seperti terapi laser, operasi, atau dermabrasi.

Masing-masing metode memiliki keunggulan dan risiko yang perlu dipertimbangkan.
Karena itu, sebelum memilih tindakan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

Pemilihan metode akan disesuaikan dengan ukuran, warna, letak tato, hingga riwayat kesehatan kulit, misalnya bila ada eksim atau psoriasis.

Salah satu cara yang paling umum adalah terapi laser.

Teknik ini bekerja dengan memecah pigmen tinta menjadi partikel kecil menggunakan sinar laser.

Partikel tersebut kemudian akan diserap dan diuraikan oleh sistem kekebalan tubuh.

Warna hitam, cokelat, biru tua, dan hijau biasanya lebih mudah dihapus dibandingkan warna terang seperti merah, kuning, atau putih.

Meski tergolong aman, prosedur ini dapat menimbulkan rasa nyeri, perubahan warna kulit, bekas luka, hingga risiko infeksi.

Karena itu, dokter biasanya memberikan anestesi lokal dan salep antibiotik.

Prosesnya sering kali membutuhkan beberapa kali sesi, terutama untuk tato berukuran besar atau bercorak cerah.

Metode lain adalah operasi pengangkatan tato.

Pada tato kecil, jaringan kulit yang bertinta dipotong lalu dijahit kembali.

Untuk tato besar, dokter mungkin perlu melakukan cangkok kulit dengan mengambil kulit dari bagian tubuh lain.

Cara ini efektif menghilangkan tato secara cepat, tetapi bekas luka pascaoperasi biasanya lebih jelas terlihat.

Pilihan berikutnya adalah dermabrasi, yaitu mengikis lapisan kulit menggunakan alat khusus.

Proses ini menimbulkan luka terbuka yang butuh waktu lebih lama untuk sembuh dibandingkan laser.

Selain terasa nyeri meski sudah diberikan bius lokal, dermabrasi sering kali memerlukan lebih dari satu kali tindakan.

Karena itu, prosedur ini lebih jarang dipilih dibanding terapi laser.

Ketiga metode medis tersebut berisiko menimbulkan efek samping, seperti infeksi, jaringan parut, perubahan warna kulit, atau reaksi alergi terhadap obat bius.

Oleh karena itu, tindakan sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman.

Setelah prosedur, dokter biasanya meresepkan obat untuk mengurangi rasa sakit, mencegah infeksi, serta meminimalkan risiko komplikasi.-***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *