KITAINDONESIASATU.COM – Bagi para penggemar film horor tanah air, Petaka Gunung Gede menjadi salah satu rilisan yang paling ramai dibicarakan sepanjang awal tahun 2025.
Film ini mengangkat latar Gunung Gede yang dikenal sarat mitos dan nuansa mistis, menjadikannya tontonan horor lokal dengan atmosfer alam yang memikat.
Setelah sukses menarik perhatian penonton bioskop di berbagai negara Asia Tenggara, Petaka Gunung Gede akhirnya siap tayang di Netflix pada pertengahan Juni 2025.
Sinopsis Petaka Gunung Gede
Film yang juga dikenal dengan judul internasional Haunting of Mount Gede ini mengisahkan dua sahabat, Maya dan Ita, yang nekat mendaki Gunung Gede saat liburan sekolah. Mereka mengabaikan larangan adat setempat, hingga keputusan itu membawa kutukan mematikan. Maya pun mulai menunjukkan tanda-tanda kerasukan, dan satu per satu pendaki mengalami gangguan tak kasat mata. Cerita berkembang menuju ketegangan klimaks lewat kehadiran mahluk halus, suasana mencekam hutan pegunungan, dan bayang-bayang mitos yang terus menghantui.
Pemain dan Tim di Balik Layar
Film ini disutradarai Azhar Kinoi Lubis, dengan naskah adaptasi ditulis oleh Upi Avianto berdasarkan cerita orisinal Maya Azka. Pemeran utama Arla Ailani tampil kuat sebagai Maya, sementara Adzana Shaliha berperan sebagai Ita. Pemeran pendukung seperti Endy Arfian, Raihan Khan, dan Teuku Rifnu Wikana ikut memperkuat atmosfer horor yang dihadirkan.
Penayangan dan Jadwal Rilis
Setelah premier di Jakarta pada 31 Januari 2025, film ini mulai tayang di bioskop Indonesia pada 6 Februari, lalu menyusul di Malaysia, Brunei, Kamboja, dan Thailand. Bagi penonton digital, Petaka Gunung Gede akan tersedia di Netflix Indonesia mulai 19 Juni 2025, dengan klasifikasi usia 13 tahun ke atas.
Dari sisi visual, film ini menuai pujian karena mampu menghadirkan pemandangan alam Gunung Gede yang indah sekaligus menyeramkan. Akting Arla Ailani juga dinilai mencuri perhatian, terutama dalam peran kerasukan yang emosional. Namun, beberapa kritikus menyoroti alur yang lambat di pertengahan cerita serta penggunaan jump scare yang terasa repetitif. Karakter pendukung juga dianggap kurang digali secara emosional.
