Hidupnya tak mudah: ditinggal pasangan, Sartika nekat meninggalkan kampung halamannya di kawasan Pantura (Pantai Utara Jawa) demi masa depan yang lebih baik bagi dirinya dan calon bayi.
Dengan tekad baja, ia menjadi penjaja kopi keliling, berjuang melawan keterbatasan ekonomi, cuaca buruk, dan stigma sosial yang sering menimpa perempuan single parent.
Sepanjang perjalanan, Sartika tak sendirian. Ia bertemu dengan berbagai tokoh pendukung yang memperkaya cerita, seperti peran ikonik Christine Hakim sebagai figur ibu atau mentor yang penuh kasih—sebuah penampilan yang langsung menyabet Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik.
Ada juga momen-momen pilu saat Sartika duduk di tepi pantai bersama anaknya, Bayu, menghadap laut yang tak bertepi, simbolisasi harapan dan ketabahan.
Film ini tak sekadar drama keluarga; ia jadi cermin nyata bagi perjuangan perempuan Indonesia yang sering “dipangku” oleh tanggung jawab berat, tapi tetap bangkit dengan cinta dan ketangguhan.
Diproduksi oleh Arya Ibrahim dan Gita Fara, ‘Pangku’ juga menyoroti keindahan visual Pantura: ombak ganas, aroma kopi hangat, dan senyum lelah para pekerja harian.
Durasi sekitar 100 menit ini dipenuhi dialog mendalam dan sinematografi yang memukau, membuat penonton tak henti terharu.



