Hiburan

Apa itu Tradisi Manten Tebu yang ada di Film Pabrik Gula? Simak Penjelasannya

×

Apa itu Tradisi Manten Tebu yang ada di Film Pabrik Gula? Simak Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
Apa itu Tradisi Manten Tebu yang ada di Film Pabrik Gula? Simak Penjelasannyav

KITAINDONESIASATU.COM – Berikut ini penjelasan tradisi tebu yang muncul di film Pabrik Gula. Simak penjelasannya. 

Film Pabrik Gula menuai sorotan karena diyakini sebagian orang diangkat dari kisah nyata. Salah satu alasan yang menguatkan anggapan tersebut adalah keberadaan tradisi manten tebu yang menjadi inti dalam alur cerita. Tradisi ini rupanya benar-benar ada di masyarakat sekitar pabrik gula, sebagaimana dijelaskan oleh Simple Man, penulis cerita yang menginspirasi film tersebut.

Melalui akun X (sebelumnya Twitter), Simple Man menjelaskan bahwa masyarakat di sekitar pabrik gula tak asing dengan istilah “manten tebu”. Ia menggambarkan tradisi ini sebagai bentuk perayaan menyambut musim panen, ketika batang-batang tebu siap digiling dan disuling menjadi gula.

Sejumlah warganet yang tinggal di kawasan pabrik gula juga mengungkapkan bahwa mereka mengenal tradisi serupa. Salah satu dari mereka menyebut adanya “festival giling pengantin”, yakni perayaan yang menandai awal proses penggilingan dengan simbol berupa boneka dari tepung.

Lalu, benarkah tradisi manten tebu memang dilakukan di dunia nyata?

Makna di Balik Tradisi Manten Tebu: Simbol Kerja Sama antara Petani dan Pabrik

Tradisi manten tebu memang tercatat dalam berbagai sumber sejarah dan budaya. Jurnal Baradha edisi 25 volume 1 tahun 2023 yang ditulis oleh Novi Antikasari dan Octo Dendy Andriyanto, mengulas keberadaan tradisi ini di beberapa wilayah Jawa Timur seperti Kediri, Tulungagung, dan Blitar.

Secara etimologis, “manten tebu” berarti “pengantin tebu”. Tradisi ini merupakan bentuk syukuran dan harapan atas hasil panen tebu yang melimpah. Filosofinya adalah “pernikahan” antara petani dan pihak pabrik gula, dengan harapan terjalinnya kerja sama yang harmonis dan saling menguntungkan.

Perayaan manten tebu tidak hanya berbentuk prosesi simbolik, tetapi juga diisi dengan acara meriah seperti pasar malam dan pertunjukan seni tradisional. Di beberapa daerah, tradisi ini juga dilakukan dengan mengawinkan dua batang tebu terbaik, yang dijadikan simbol pengantin laki-laki dan perempuan.

Uniknya, tebu laki-laki diberi nama Raden Bagus Rosan, sementara tebu perempuan dinamakan Dyah Ayu Roromanis. Pemberian nama ini mengandung doa dan harapan agar panen tebu sukses dan berkualitas tinggi.

Tak hanya tebu, pasangan manusia yang berperan dalam ritual ini pun dipilih dengan ketat—harus masih lajang dan perawan. Mereka akan diarak dari kebun menuju pabrik bersama tebu pengantin sebagai bagian dari seremoni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *