Pemain akan mengikuti kisah Artyom, pemuda berusia 18 tahun yang memilih menjadi sukarelawan di Mariupol setelah ayahnya dikirim ke garis depan perang.
Berbeda dengan game perang pada umumnya, pemain tidak berfokus pada baku tembak atau penggunaan senjata.
Sebaliknya, game ini menyoroti tekanan mental, konflik batin, rasa takut, hingga pencarian jati diri di tengah situasi perang.
“Ini adalah cerita tentang masa lalu dan masa kini yang saling terhubung, tentang rasa takut, rasa bersalah, dan pilihan hidup,” tulis deskripsi game tersebut.
Meski terinspirasi dari peristiwa nyata, pengembang sengaja tidak menjelaskan detail spesifik konflik agar tidak dianggap mewakili pengalaman pribadi korban perang tertentu.
Selain visual yang gelap dan artistik, desain suara menjadi salah satu elemen penting dalam membangun suasana permainan.
Efek suara seperti percakapan radio, ledakan dari kejauhan, langkah kaki, suara gesekan, hingga keheningan panjang disebut menjadi bagian utama dalam menciptakan pengalaman emosional bagi pemain.



