KITAINDONESIASATU.COM – Pada malam 11 dan 12 Juli 2025, banyak warga dunia menyaksikan fenomena langit langka: bulan tampak berwarna merah atau oranye. Fenomena ini dikenal sebagai Buck Moon, bulan purnama yang terjadi setiap bulan Juli dan tahun ini terlihat kemerahan, membuat publik bertanya-tanya apakah itu Blood Moon atau tanda gerhana.
Ternyata, tidak ada gerhana bulan total yang terjadi malam itu. Warna merah yang terlihat lebih disebabkan oleh efek Hamburan Rayleigh, di mana cahaya biru terhambur lebih dulu saat bulan berada rendah di cakrawala, dan cahaya merah lebih dominan mencapai mata. Efek ini bisa diperkuat oleh keberadaan polusi, debu, atau asap di atmosfer.
Blood Moon sendiri terjadi saat gerhana bulan total, ketika bumi menutupi cahaya matahari dan hanya membiaskan cahaya merah ke bulan. Meski bukan gerhana, Buck Moon kali ini tetap menakjubkan.
Nama Buck Moon berasal dari budaya suku Algonquin, merujuk pada saat rusa jantan mulai menumbuhkan tanduk baru. Fenomena ini bisa disaksikan terbaik pada 11 Juli pukul 04.00 WIB saat bulan terbit rendah di langit.




