KITAINDONESIASATU.COM – Pulau Enggano terletak sekitar 100 kilometer di lepas pantai barat daya Sumatera dan masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Bengkulu Utara.
Pulau ini memiliki panjang sekitar 35–45 km dari timur ke barat dan lebar 16–17 km dari utara ke selatan. Tiga permukiman utamanya adalah Barhau, Kabuwe, dan Kayaapu.
Nama “Enggano” diyakini berasal dari kata Portugis yang berarti “kekecewaan”, kemungkinan karena pengalaman pelaut Eropa saat itu.
Catatan awal yang menyebutkan pulau ini berasal dari Cornelis de Houtman pada 5 Juni 1596, meski ia gagal mendarat.
Penghuni asli pulau ini adalah Suku Enggano yang terbagi dalam lima puak dan menggunakan bahasa Enggano.
Mereka telah menetap sejak masa kolonial Belanda, tepatnya sejak 1934. Selain Suku Enggano, terdapat juga kelompok pendatang lain seperti Suku Kauno dan Suku Banten.
Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari perkebunan kakao, dengan hasil panen yang dijual ke Bengkulu.
Pulau ini juga menyimpan potensi hasil hutan non-kayu, seperti rotan, melinjo, manau, rempah, serta hasil laut. Sayangnya, sebagian potensi tersebut belum dimaksimalkan karena keterbatasan akses dan sarana.
Ekosistem Pulau Enggano relatif masih terjaga dibanding pulau kecil lainnya di wilayah barat Sumatera.
Namun, aksesibilitas masih terbatas. Satu-satunya transportasi ke pulau ini adalah kapal laut, yang beroperasi dua kali seminggu dari Pelabuhan Bai di Bengkulu dengan kapal feri KM Pulo Telo.
Ada pula kapal perintis yang datang setiap 10 hari. Di dalam pulau, transportasi antar desa pun masih bergantung pada perahu karena keterbatasan infrastruktur darat.-***


