KITAINDONESIASATU.COM – Untuk mencapai wilayah barat daya Semenanjung Lombok, perjalanan dimulai dengan berbelok sebelum Lembar.
Jalur ini mengarah ke selatan, mengitari teluk, lalu masuk ke area perbukitan di pedalaman.
Jalan samping sepanjang 9 kilometer ini terletak dekat dengan teluk dan menyuguhkan pemandangan menawan dari pelabuhan serta perairan di sekitarnya.
Perairan setempat dipenuhi dengan bagan, yakni platform penangkapan ikan yang tampak mengapung di permukaan air, menyerupai bentuk laba-laba.
Saat malam tiba, para nelayan menebarkan jaring besar mereka, menggunakan lampu sebagai daya tarik bagi ikan.
Beberapa kali dalam semalam, mereka mengangkat jaring untuk mengambil hasil tangkapan yang didominasi ikan kecil.
Sebuah jalan kecil di sekitar area ini mengarah ke tambak udang dan akhirnya bermuara ke jalan utama dekat Jelateng, tempat berlangsungnya pasar setiap hari Kamis.
Beberapa kilometer dari sana, distrik Sekotong membentang mencakup seluruh semenanjung, dengan jalur tak beraspal yang menuju ke Sepi dari Sekotong Tengah.
Jalur ke barat, yang sebagian besar sudah beraspal, membentang mengikuti garis pantai utara semenanjung. Sungai Side yang mengalir ke laut dapat ditemukan di beberapa titik sepanjang jalur ini.
Perairan di kawasan ini cukup tenang, dengan pantai berpasir putih yang menghiasi pesisirnya.
Permukiman di sepanjang pantai sebagian besar terdiri dari rumah kayu sederhana dengan atap panel merah.
Pulau-pulau kecil tersebar di sekitar pantai, dikelilingi oleh hutan bakau dan deretan pohon kelapa yang berpadu dengan pasir putih. Truk terbuka menjadi moda transportasi utama di kawasan ini, sementara bemo hanya tersedia di jalur yang sudah beraspal.
Di wilayah barat Kecamatan Sekotong atau Sekotong Barat, terdapat pemukiman Bali di Batu Liong, yang memiliki pura kecil serta tempat peribadatan di lepas pantai.
Desa Pelangan terkenal dengan pantainya yang indah, yang juga menjadi lokasi ideal untuk snorkeling.
Di dekatnya, terdapat peternakan mutiara yang dikelola oleh investor Jepang.
Penduduk setempat dikenal ramah dan terbuka terhadap wisatawan.
Dengan membayar sejumlah uang, pengunjung dapat menginap di rumah warga serta merasakan pengalaman kehidupan desa.
Meskipun demikian, sebagian besar penduduk desa hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit dan masih membutuhkan banyak bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti obat-obatan dan pakaian.-***


