KITAINDONESIASATU.COM – Menuju ke arah selatan setelah melewati kota kecil Sengkol, kita akan sampai di Desa Sade, sebuah perkampungan adat yang masih mempertahankan warisan budaya Lombok secara utuh.
Desa ini dipenuhi rumah tradisional serta lumbung padi khas yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Peraturan setempat melarang pembangunan rumah modern dengan atap genteng merah, guna menjaga keaslian dan tampilan tradisional desa.
Anak-anak laki-laki di desa, beberapa di antaranya mampu berbicara sedikit bahasa Inggris, sering kali menjadi pemandu bagi wisatawan.
Mereka dengan semangat menjelaskan berbagai hal menarik yang ada di lingkungan mereka.
Seiring meningkatnya kunjungan wisata, pemerintah memutuskan untuk membangun jalan setapak dari beton pada akhir tahun 1980-an agar akses wisatawan menjadi lebih mudah tanpa merusak struktur asli desa.
Sepanjang jalan setapak itu, pengunjung kini bisa menemukan kain tenun ikat yang dijual oleh para perempuan desa.
Para penjual ini sangat terampil dalam berdagang, sehingga wisatawan disarankan lebih jeli agar tidak tertipu harga.
Rumah-rumah di Sade memiliki panggung atau lantai yang ditinggikan sekitar satu meter dari tanah.
Lantai tersebut dibuat dari campuran tanah liat, kotoran ternak, dan jerami, yang dipoles hingga mengilap.
Atapnya terbuat dari ilalang atau daun kering, sementara dinding rumah menggunakan bambu atau daun lontar.
Desa Sade dihuni oleh lebih dari 150 keluarga petani yang hidup dari hasil pertanian dan tenun tradisional.
Salah satu ikon desa ini adalah lumbung padi yang bentuknya menyerupai rumah panggung kecil dan berdiri di atas pilar.
Bangunan ini bukan hanya fungsional, tapi juga telah menjadi simbol arsitektur khas Lombok.-***


