Dari total ibu yang terlibat dalam penelitian, 83 persen mengakui adanya dampak buruk dari konsumsi kental manis terhadap kesehatan anak-anak mereka. Tria menekankan, “Pemeriksaan klinis lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan sejauh mana efek konsumsi kental manis pada kesehatan balita.”
Lina Marlina, Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Daerah PP Aisyiyah Kabupaten Bogor, menyoroti tantangan dalam mengumpulkan data dampak konsumsi kental manis.
“Mencari data ini tidak mudah, tetapi kami menemukan lebih dari 100 bayi di Pamijahan yang terindikasi mengalami masalah akibat konsumsi kental manis,” jelas Lina.
Dia mengapresiasi peran kader posyandu yang membantu dalam pengumpulan data. “Ini adalah fenomena yang harus kita perhatikan.”
Untuk mengurangi konsumsi kental manis yang berlebihan, Lina menyarankan perlunya edukasi yang berkelanjutan. “Kami tidak hanya melakukan sosialisasi, tetapi juga memberikan solusi dengan menyediakan makanan dan minuman pengganti. Kami ingin memastikan anak-anak mendapatkan gizi yang lebih baik,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala bidang (Kabid) Kabid Kesmas Dinkes Kabupaten Bogor, dr. Intan Widayati, menyoroti kebiasaan orang tua yang memilih solusi praktis bagi anak-anak tanpa mempertimbangkan efek jangka panjang.
“Sosialisasi mengenai gizi yang kami lakukan sering kali tidak efektif karena faktor kebiasaan ini,” ungkapnya sambil menyerukan perlunya kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kesehatan anak. (Nicko)


