KITAINDONESIASATU.COM – Puasa merupakan ibadah yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan jika dilakukan dengan benar. Namun, bagi anak-anak yang sedang belajar berpuasa, melewatkan sahur bisa berdampak buruk bagi kesehatan mereka.
Ahli gizi lulusan Universitas Hasanuddin (UNHAS), Dr. dr. Lucy Widasari, M.Si, mengungkapkan bahwa anak yang berpuasa tanpa sahur berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti hipoglikemia, dehidrasi, gangguan pencernaan, hingga penurunan daya tahan tubuh.
5 Dampak Buruk Puasa Tanpa Sahur bagi Anak
1. Risiko Hipoglikemia: Gula Darah Turun Drastis
Hipoglikemia adalah kondisi di mana kadar gula darah turun di bawah batas normal. Ini bisa menyebabkan pusing, gemetar, lemas, hingga pingsan. Anak-anak yang melewatkan sahur tidak memiliki cadangan energi yang cukup untuk bertahan hingga waktu berbuka, sehingga mereka lebih rentan mengalami hipoglikemia dibandingkan orang dewasa.
Tanda-tanda anak mengalami hipoglikemia saat puasa:
- Pusing atau sakit kepala
- Tubuh gemetar
- Merasa sangat lemas
- Berkeringat dingin
- Kesulitan berkonsentrasi
Untuk mencegah kondisi ini, sahur dengan makanan bergizi seimbang sangat diperlukan. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, atau oatmeal dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil lebih lama.
2. Menurunnya Daya Ingat dan Performa Akademik
Studi menunjukkan bahwa melewatkan sarapan (atau sahur saat puasa) dapat berpengaruh pada performa akademik anak. Tanpa asupan energi di pagi hari, anak lebih sulit berkonsentrasi dan daya ingatnya menurun.
Ketika otak kekurangan glukosa, fungsi kognitif menjadi terganggu, sehingga anak dapat mengalami kesulitan memahami pelajaran dan mengerjakan tugas sekolah. Oleh karena itu, penting untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup saat sahur agar tetap fokus dalam belajar.
3. Risiko Dehidrasi yang Bisa Berdampak Buruk pada Konsentrasi dan Mood
Dehidrasi adalah masalah umum yang terjadi saat puasa, terutama jika anak tidak sahur. Tanpa asupan cairan di pagi hari, tubuh akan lebih cepat kehilangan cairan, terutama jika cuaca panas.
Gejala dehidrasi yang sering terjadi saat puasa:
- Mulut kering dan bibir pecah-pecah
- Sakit kepala
- Pusing
- Kesulitan berkonsentrasi
- Mood mudah berubah, seperti mudah marah atau gelisah
Untuk menghindari dehidrasi, pastikan anak minum cukup air saat sahur dan berbuka. Selain itu, konsumsi makanan yang mengandung banyak air, seperti buah-buahan (semangka, jeruk, melon) juga sangat disarankan.
4. Gangguan Pencernaan: Sembelit dan Asam Lambung Naik
Sahur tidak hanya penting untuk energi, tetapi juga menjaga kesehatan pencernaan. Jika anak melewatkan sahur, mereka mungkin mengalami:
Sembelit: Kurangnya serat dalam makanan bisa menyebabkan sulit buang air besar.
Asam lambung naik (GERD): Perut kosong dalam waktu lama dapat memicu naiknya asam lambung, terutama bagi anak yang memiliki riwayat maag.
Untuk mencegah masalah ini, anak-anak perlu mengonsumsi makanan tinggi serat saat sahur, seperti sayuran, buah, dan biji-bijian. Selain itu, menghindari makanan berlemak tinggi dan terlalu pedas juga dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan mereka.
5. Penurunan Daya Tahan Tubuh dan Kekuatan Otot
Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan selama sahur, ia akan mulai menggunakan cadangan lemak dan protein sebagai sumber energi. Ini bisa menyebabkan:
- Penurunan daya tahan tubuh, sehingga anak lebih rentan terkena penyakit seperti flu dan batuk.
- Hilangnya massa otot karena tubuh menggunakan protein dari otot sebagai sumber energi.
- Anak merasa lebih cepat lelah karena kekurangan energi.
Untuk mencegah hal ini, pastikan anak mendapatkan protein yang cukup saat sahur, seperti telur, daging tanpa lemak, ikan, dan susu. Protein membantu menjaga massa otot dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Cara Mencegah Dampak Buruk Puasa Tanpa Sahur
Agar anak tetap sehat dan kuat saat menjalankan ibadah puasa, orang tua dapat menerapkan beberapa tips berikut:
Jangan Lewatkan Sahur: Pastikan anak tetap sahur dengan makanan bergizi dan seimbang.
Konsumsi Karbohidrat Kompleks: Seperti nasi merah, oatmeal, atau roti gandum agar energi bertahan lebih lama.
Perbanyak Protein: Protein dari telur, daging, dan kacang-kacangan penting untuk menjaga kekuatan otot.
Minum Cukup Air: Pastikan anak minum air yang cukup saat sahur dan berbuka untuk mencegah dehidrasi.
Hindari Makanan yang Tidak Sehat: Gorengan, makanan pedas, dan minuman berkafein sebaiknya dihindari karena dapat memicu gangguan pencernaan.
Pastikan Anak Cukup Istirahat: Tidur yang cukup membantu tubuh tetap bugar saat berpuasa.
Puasa memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan spiritualitas anak, tetapi harus dilakukan dengan cara yang benar. Melewatkan sahur dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti hipoglikemia, dehidrasi, gangguan pencernaan, hingga menurunnya daya tahan tubuh dan performa akademik anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memastikan anak-anak sahur dengan makanan sehat dan cukup cairan agar mereka dapat menjalani puasa dengan baik.
Dengan pola makan yang tepat dan kebiasaan sehat selama Ramadan, anak-anak bisa tetap aktif, sehat, dan nyaman dalam menjalankan ibadah puasa tanpa mengalami dampak negatif akibat tidak sahur.




